Ayat Ayat Cinta

Ayat Ayat Cinta

Novel

Novel Pembangun Jiwa
Karya Habiburrahman Saerozi
Alumnus Universitas Al Azhar, Cairo

—————————————–

1. Gadis Mesir Itu Bernama Maria
Tengah hari ini, kota Cairo seakan membara. Matahari berpijar di tengah petala langit. Seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi. Tanah dan pasir menguapkan bau neraka. Hembusan angin sahara disertai debu yang bergulung-gulung menambah panas udara semakin tinggi dari detik ke detik. Penduduknya, banyak yang berlindung dalam flat yang ada dalam apartemenapartemen berbentuk kubus dengan pintu, jendela dan tirai tertutup rapat.
Memang, istirahat di dalam flat sambil menghidupkan pendingin ruangan jauh lebih nyaman daripada berjalan ke luar rumah, meski sekadar untuk shalat berjamaah di masjid. Panggilan azan zhuhur dari ribuan menara yang bertebaran di seantero kota hanya mampu menggugah dan menggerakkan hati mereka yang benar-benar tebal imannya. Mereka yang memiliki tekad beribadah sesempurna mungkin dalam segala musim dan cuaca, seperti karang yang tegak berdiri dalam deburan ombak, terpaan badai, dan sengatan matahari. Ia tetap teguh berdiri seperti yang dititahkan Tuhan sambil bertasbih tak kenal kesah. Atau, seperti matahari yang telah jutaan tahun membakar tubuhnya untuk memberikan penerangan ke bumi dan seantero mayapada. Ia tiada pernah mengeluh, tiada pernah mengerang sedetik pun menjalankan titah Tuhan.

Awal-awal Agustus memang puncak musim panas. Dalam kondisi sangat tidak nyaman seperti ini, aku sendiri sebenarnya sangat malas keluar. Ramalan cuaca mengumumkan: empat puluh satu derajat celcius! Apa tidak gila!? Mahasiswa Asia Tenggara yang tidak tahan panas, biasanya sudah mimisan, hidungnya mengeluarkan darah. Teman satu flat yang langganan mimisan di puncak musim panas adalah Saiful. Tiga hari ini, memasuki pukul sebelas siang sampai pukul tujuh petang, darah selalu merembes dari hidungnya. Padahal ia tidak keluar flat sama sekali. Ia hanya diam di dalam kamarnya sambil terus menyalakan kipas angin. Sesekali ia kungkum, mendinginkan badan di kamar mandi.

Dengan tekad bulat, setelah mengusir segala rasa aras-arasen1 aku bersiap untuk keluar. Tepat pukul dua siang aku harus sudah berada di Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq yang terletak di Shubra El-Khaima, ujung utara Cairo, untuk talaqqi2 pada Syaikh Utsman Abdul Fattah. Pada ulama besar ini aku belajar qiraah sab’ah3 dan ushul tafsir4. Beliau adalah murid Syaikh Mahmoud Khushari, ulama legendaris yang mendapat julukan Syaikhul Maqari’ Wal Huffadh Fi Mashr atau Guru Besarnya Para Pembaca dan Penghafal Al-Qur’an di Mesir.

Jadwalku mengaji pada Syaikh yang terkenal sangat disiplin itu seminggu dua kali. Setiap Ahad dan Rabu. Beliau selalu datang tepat waktu. Tak kenal kata absen. Tak kenal cuaca dan musim. Selama tidak sakit dan tidak ada uzur yang teramat penting, beliau pasti datang. Sangat tidak enak jika aku absen hanya karena alasan panasnya suhu udara. Sebab beliau tidak sembarang menerima murid untuk talaqqi qiraah sab’ah. Siapa saja yang ingin belajar qiraah sab’ah terlebih dahulu akan beliau uji hafalan Al-Qur’an tiga puluh juz dengan qiraah bebas. Boleh Imam Warasy. Boleh Imam Hafsh. Atau lainnya. Tahun ini beliau hanya menerima sepuluh orang murid. Aku termasuk sepuluh orang yang beruntung itu. Lebih beruntung lagi, beliau sangat mengenalku. Itu karena, di samping sejak tahun pertama kuliah aku sudah menyetorkan hafalan Al-Qur’an pada beliau di serambi masjid Al Azhar, juga karena di antara sepuluh orang yang terpilih itu ternyata hanya diriku seorang yang bukan orang Mesir.

Aku satusatunya orang asing, sekaligus satu-satunya yang dari Indonesia. Tak heran jika beliau meng-anakemas-kan diriku. Dan teman-teman dari Mesir tidak ada yang merasa iri dalam masalah ini. Mereka semua simpati padaku. Itulah sebabnya, jika aku absen pasti akan langsung ditelpon oleh Syaikh Utsman dan teman-teman.

Mereka akan bertanya kenapa tidak datang? Apa sakit? Apa ada halangan dan lain sebagainya. Maka aku harus tetap berusaha datang selama masih mampu menempuh perjalanan sampai ke Shubra, meskipun panas membara dan badai debu bergulung-gulung di luar sana. Meskipun jarak yang ditempuh sekitar lima puluh kilo meter lebih jauhnya. Kuambil mushaf tercinta.

Kucium penuh takzim. Lalu kumasukkan ke dalam saku depan tas cangklong hijau tua. Meskipun butut, ini adalah tas bersejarah yang setia menemani diriku menuntut ilmu sejak di Madrasah Aliyah sampai saat ini, saat menempuh S.2. di universitas tertua di dunia, di delta Nil ini. Aku mengambil satu botol kecil berisi air putih di kulkas. Kumasukkan dalam plastik hitam lalu kumasukkan dalam tas. Aku selalu membiasakan diri membawa air putih jika bepergian, selain sangat berguna juga merupakan salah satu bentuk penghematan yang sangat terasa. Apalagi selama menempuh perjalanan jauh dari HadayekHelwan sampai Shubra El-Khaima dengan metro5, tidak akan ada yang menjual minuman.

Aku sedikit ragu mau membuka pintu. Hatiku ketar-ketir. Angin sahara terdengar mendesau-desau. Keras dan kacau. Tak bisa dibayangkan betapa kacaunya di luar sana. Panas disertai gulungan debu yang berterbangan. Suasana yang jauh dari nyaman. Namun niat harus dibulatkan. Bismillah tawakkaltu ‘ala Allah, pelan-pelan kubuka pintu apartemen. Dan… Wuss!

Angin sahara menampar mukaku dengan kasar. Debu bergumpal-gumpal bercampur pasir menari-nari di mana-mana. Kututup kembali pintu apartemen. Rasanya aku melupakan sesuatu. “Mas Fahri, udaranya terlalu panas. Cuacanya buruk. Apa tidak sebaiknya istirahat saja di rumah?” saran Saiful yang baru keluar dari kamar mandi. Darah yang merembes dari hidungnya telah ia bersihkan.

“Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa. Aku sangat tidak enak pada Syaikh Utsman jika tidak datang. Beliau saja yang sudah berumur tujuh puluh lima tahun selalu datang. Tepat waktu lagi. Tak kenal cuaca panas atau dingin. Padahal rumah beliau dari masjid tak kurang dari dua kilo,” tukasku sambil bergegas masuk kamar kembali, mengambil topi dan kaca mata hitam. “Allah yubarik fik7, Mas,” ujarnya serak. Tangan kanannya mengusapkan sapu tangan pada hidungnya. Mungkin darahnya merembes lagi.

“Wa iyyakum!8” balasku sambil memakai kaca mata hitam dan memakai topi menutupi kopiah putih yang telah menempel di kepalaku. 5 Kereta listrik, disebut juga trem. Dengan menyebut nama Allah, aku berserah diri kepada Allah. Semoga Allah melimpahkan berkah padamu. Dan semoga melimpahkan (berkah-Nya) pada kalian semua.

“Sudah bawa air putih, Mas?”

Aku mengangguk.

“Saif, Rudi minta dibangunkan pukul setengah dua. Tadi malam dia lembur bikin makalah. Kelihatannya dia baru tidur jam setengah sepuluh tadi. Terus tolong nanti bilang sama dia untuk beli gula, dan minyak goreng. Hari ini dia yang piket belanja. Oh ya, hampir lupa, nanti sore yang piket masak Hamdi. Dia paling suka masak oseng-oseng wortel campur kofta. Kebetulan wortel dan koftanya habis. Bilang sama Rudi sekalian.”

Sebagai yang dipercaya untuk jadi kepala keluarga—meskipun tanpa seorang ibu rumah tangga—aku harus jeli memperhatikan kebutuhan dan kesejahteraan anggota. Dalam flat ini kami hidup berlima; aku, Saiful, Rudi, Hamdi dan Mishbah. Kebetulan aku yang paling tua, dan paling lama di Mesir. Secara akademis aku juga yang paling tinggi. Aku tinggal menunggu pengumuman untuk menulis tesis master di Al Azhar. Yang lain masih program S.1. Saiful dan Rudi baru tingkat tiga, mau masuk tingkat empat. Sedangkan Misbah dan Hamdi sedang menunggu pengumuman kelulusan untuk memperoleh gelar Lc. atau Licence. Mereka semua telah menempuh ujian akhir tahun pada akhir Mei sampai awal Juni yang lalu. Awal-awal Agustus biasanya pengumuman keluar. Namun sampai hari ini, pengumuman belum juga keluar.

Dan hari ini, kebetulan yang ada di flat hanya tiga orang, yaitu aku, Saiful dan Rudi. Adapun Hamdi sudah dua hari ini punya kegiatan di Dokki, tepatnya di Masjid Indonesia Cairo. Ia diminta untuk memberikan pelatihan kepemimpinan pada remaja masjid yang semuanya adalah putera-puteri para pejabat KBRI. Siang ini katanya selesai, dan nanti sore dia pulang. Sedangkan Mishbah sedang berada di Rab’ah El-Adawea, Nasr City. Katanya ia harus menginap di Wisma Nusantara, di tempatnya Mas Khalid, untuk merancang draft pelatihan ekonomi Islam bersama Profesor Maulana Husein Shahata, pertengahan September depan.

Masing-masing penghuni flat ini punya kesibukan. Aku sendiri yang sudah tidak aktif di organisasi manapun, juga mempunyai jadwal dan kesibukan. Membaca bahan untuk tesis, talaqqi qiraah sab’ah, menerjemah, dan diskusi intern dengan teman-teman mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh S.2. dan S.3. di Cairo. Daging yang telah dicincang halus dengan mesin.

Urusan-urusan kecil seperti belanja, memasak dan membuang sampah, jika tidak diatur dengan bijak dan baik akan menjadi masalah. Dan akan mengganggu keharmonisan. Kami berlima sudah seperti saudara kandung. Saling mencintai, mengasihi dan mengerti. Semua punya hak dan kewajiban yang sama. Tidak ada yang diistimewakan. Semboyan kami, baiti jannati. Rumahku adalah surgaku. Tempat yang kami tinggali ini harus benar-benar menjadi tempat yang menyenangkan. Dan sebagai yang paling tua aku bertanggung jawab untuk membawa mereka pada suasana yang mereka inginkan.

Aku melangkah ke pintu.

“Saif. Jangan lupa pesanku tadi!” kembali aku mengingatkan sebelum membuka pintu.

“Insya Allah, Mas.”

Di luar sana angin terdengar mendesau-desau. Benar kata Saiful, cuaca sebetulnya kurang baik. Ah, kalau tidak ingat bahwa kelak akan ada hari yang lebih panas dari hari ini dan lebih gawat dari hari ini. Hari ketika manusia digiring di padang Mahsyar dengan matahari hanya satu jengkal di atas ubun-ubun kepala. Kalau tidak ingat, bahwa keberadaanku di kota seribu menara ini adalah amanat. Dan amanat akan dipertanggungjawabkan dengan pasti. Kalau tak ingat, bahwa masa muda yang sedang aku jalani ini akan dipertanyakan kelak. Kalau tak ingat, bahwa tidak semua orang diberi nikmat belajar di bumi para nabi ini. Kalau tidak ingat, bahwa aku belajar di sini dengan menjual satu-satunya sawah warisan dari kakek. Kalau tidak ingat bahwa aku dilepas dengan linangan air mata dan selaksa doa dari ibu, ayah dan sanak saudara. Kalau tak ingat bahwa jadwal adalah janji yang harus ditepati. Kalau tak ingat itu semua, shalat zhuhur di kamar saja lalu tidur nyantai menyalakan kipas dan mendengarkan lantunan lagu El-Himl El-Arabi atau El-Hubb El-Haqiqi, atau untaian shalawatnya Emad Rami dari Syiria itu, tentu rasanya nyaman sekali. Apalagi jika diselingi minum ashir10 mangga yang sudah didinginkan satu minggu di dalam kulkas atau makan buah semangka yang sudah dua hari didinginkan. Masya Allah, alangkah segarnya.

Kubuka pintu apartemen perlahan.

Wuss!

Angin sahara kembali menerpa wajahku. Aku melangkah keluar lalu menuruni tangga satu per satu. Flat kami ada di tingkat tiga. Gedung apartemen ini hanya enam tingkat dan tidak punya lift. Sampai di halaman apartemen, jilatan panas matahari seakan menembus topi hitam dan kopiah putih yang menempel di kepalaku. Seandainya tidak memakai kaca mata hitam, sinarnya yang benderang akan terasa perih menyilaukan mata.

Kulangkahkan kaki ke jalan.

“Psst..psst…Fahri! Fahri!”

Kuhentikan langkah. Telingaku menangkap ada suara memanggil-manggil namaku dari atas. Suara yang sudah kukenal. Kupicingkan mataku mencari asal suara. Di tingkat empat. Tepat di atas kamarku. Seorang gadis Mesir berwajah bersih membuka jendela kamarnya sambil tersenyum. Matanya yang bening menatapku penuh binar.

“Hei Fahri, panas-panas begini keluar, mau ke mana?”

“Shubra.”

“Talaqqi Al-Qur’an ya?”

Aku mengangguk.

“Pulangnya kapan?”

“Jam lima, insya Allah.”

“Bisa nitip?”

“Nitip apa?”

“Belikan disket. Dua. Aku malas sekali keluar.”

“Baik, insya Allah.”

Aku membalikkan badan dan melangkah.

“Fahri, istanna suwayya!”

“Fi eh kaman?”

Aku urung melangkah.

“Uangnya.”

“Sudah, nanti saja, gampang.”

“Syukran Fahri.”

Tunggu sebentar.

Ada apa lagi?

Aku cepat-cepat melangkah ke jalan menuju masjid untuk shalat zhuhur. Panasnya bukan main. Gadis Mesir itu, namanya Maria. Ia juga senang dipanggil Maryam. Dua nama yang menurutnya sama saja. Dia puteri sulung Tuan Boutros Rafael Girgis. Berasal dari keluarga besar Girgis. Sebuah keluarga Kristen Koptik yang sangat taat. Bisa dikatakan, keluarga Maria adalah tetangga kami paling akrab. Ya, paling akrab. Flat atau rumah mereka berada tepat di atas flat kami. Indahnya, mereka sangat sopan dan menghormati kami mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Al Azhar.

Maria gadis yang unik.

Ia seorang Kristen Koptik atau dalam bahasa asli Mesirnya qibthi, namun ia suka pada Al-Qur’an. Ia bahkan hafal beberapa surat Al-Qur’an. Di antaranya surat Maryam. Sebuah surat yang membuat dirinya merasa bangga. Aku mengetahui hal itu pada suatu kesempatan berbincang dengannya di dalam metro.

Kami tak sengaja berjumpa. Ia pulang kuliah dari Cairo University, sedangkan aku juga pulang kuliah dari Al Azhar University. Kami duduk satu bangku. Suatu kebetulan.

“Hei namamu Fahri, iya ‘kan?”

“Benar.”

“Kau pasti tahu namaku, iya ‘kan?”

“Iya. Aku tahu. Namamu Maria. Puteri Tuan Boutros Girgis.”

“Kau benar.”

“Apa bedanya Maria dengan Maryam?”

“Maria atau Maryam sama saja. Seperti David dengan Daud. Yang jelas namaku tertulis dalam kitab sucimu. Kitab yang paling banyak dibaca umat manusia di dunia sepanjang sejarah. Bahkan jadi nama sebuah surat. Surat kesembilan belas, yaitu surat Maryam. Hebat bukan?”

“Hei, bagaimana kau mengatakan Al-Qur’an adalah kitab suci paling banyak dibaca umat manusia sepanjang sejarah? Dari mana kamu tahu itu?” selidikku penuh rasa kaget dan penasaran.

Terima kasih.

“Jangan kaget kalau aku berkata begitu. Ini namanya objektif. Memang kenyataannya demikian. Charles Francis Potter mengatakan seperti itu. Bahkan jujur kukatakan, ‘Al-Qur’an jauh lebih dimuliakan dan dihargai daripada kitab suci lainnya. Ia lebih dihargai daripada Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Pendeta J. Shillidy dalam bukunya The Lord Jesus in The Koran memberikan kesaksian seperti itu. Dan pada kenyataannya tak ada buku atau kitab di dunia ini yang dibaca dan dihafal oleh jutaan manusia setiap detik melebihi Al-Qur’an. Di Mesir saja ada sekitar sepuluh ribu Ma’had Al Azhar. Siswanya ratusan ribu bahkan jutaan anak. Mereka semua sedang menghafalkan Al-Qur’an. Karena mereka tak akan lulus dari Ma’had Al Azhar kecuali harus hafal Al-Qur’an. Aku saja, yang seorang Koptik suka kok menghafal Al-Qur’an. Bahasanya indah dan enak dilantunkan,” cerocosnya santai tanpa ada keraguan.

“Kau juga suka menghafal Al-Qur’an? Apa aku tidak salah dengar?” heranku.

“Ada yang aneh?” Aku diam tidak menjawab.

“Aku hafal surat Maryam dan surat Al-Maidah di luar kepala.”

“Benarkah?”

“Kau tidak percaya? Coba kau simak baik-baik!”

Maria lalu melantunkan surat Maryam yang ia hafal. Anehnya ia terlebih dahulu membaca ta’awudz14 dan basmalah. Ia tahu adab dan tata cara membaca Al-Qur’an. Jadilah perjalanan dari Mahattah15 Anwar Sadat Tahrir sampai Tura El-Esmen kuhabiskan untuk menyimak seorang Maria membaca surat Maryam dari awal sampai akhir. Nyaris tak ada satu huruf pun yang ia lupa. Bacaannya cukup baik meskipun tidak sebaik mahasiswi Al Azhar. Dari Tura El-Esmen hingga Hadayek Helwan Maria mengajak berbincang ke mana-mana. Aku tak menghiraukan tatapan orang-orang Mesir yang heran aku akrab dengan Maria.

Itulah Maria, gadis paling aneh yang pernah kukenal. Meskipun aku sudah cukup banyak tahu tentang dirinya, baik melalui ceritanya sendiri saat tak sengaja bertemu di metro, atau melalui cerita ayahnya yang ramah. Tapi aku masih menganggapnya aneh. Bahkan misterius. Ia gadis yang sangat cerdas. Nilai ujian Yaitu membaca A’udzubillahi minasy syaithaanir rajiim.

Akhir Sekolah Lanjutan Atasnya adalah terbaik kedua tingkat nasional Mesir. Ia masuk Fakultas Komunikasi, Universitas Cairo. Dan tiap tingkat selalu meraih predikat mumtaz atau cumlaude. Ia selalu terbaik di fakultasnya. Ia pernah ditawari jadi reporter Ahram, koran terkemuka di Mesir. Tapi ia tolak. Ia lebih memilih jadi penulis bebas. Ia memang gadis Koptik yang aneh. Menurut pengakuannya sendiri, ia paling suka dengar suara azan, tapi pergi ke gereja tidak pernah ia tinggalkan. Sekali lagi, ia memang gadis Koptik yang aneh. Aku tidak tahu jalan pikirannya.

Selama ini, aku hanya mendengar dari bibirnya yang tipis itu hal-hal yang positif tentang Islam. Dalam hal etika berbicara dan bergaul ia terkadang lebih Islami daripada gadis-gadis Mesir yang mengaku muslimah. Jarang sekali kudengar ia tertawa cekikikan. Ia lebih suka tersenyum saja. Pakaiannya longgar, sopan dan rapat. Selalu berlengan panjang dengan bawahan panjang sampai tumit. Hanya saja, ia tidak memakai jilbab. Tapi itu jauh lebih sopan ketimbang gadisgadis Mesir seusianya yang berpakaian ketat dan bercelana ketat, dan tidak jarang bagian perutnya sedikit terbuka. Padahal mereka banyak yang mengaku muslimah. Maria suka pada Al-Qur’an. Ia sangat mengaguminya, meskipun ia tidak pernah mengaku muslimah. Penghormatannya pada Al-Qur’an bahkan melebihi beberapa intelektual muslim.

Ia pernah cerita, suatu kali ia ikut diskusi tentang aspek kebahasaan Al-Qur’an di Fakultas Sastra Universitas Cairo. Pemakalahnya adalah seorang doktor filsafat jebolan Sorbonne Perancis. Maria merasa risih sekali dengan kepongahan doktor itu yang mengatakan Al-Qur’an tidak sakral karena dilihat dari aspek kebahasaan ada ketidakberesan. Doktor itu mencontohkan dalam Al-Qur’an ada rangkaian huruf yang tidak diketahui maknanya. Yaitu, alif laam miim, alif laam ra, haa miim, yaa siin, thaaha nuun, kaf ha ya ‘ain shaad, dan sejenisnya.

Maria berkata padaku,

“Fahri, aku geli sekali mendengar perkataan doktor dari Sorbonne itu. Dia itu orang Arab, juga muslim, tapi bagaimana bisa mengatakan hal yang stupid begitu. Aku saja yang Koptik bisa merasakan betapa indahnya Al-Qur’an dengan alif laam miim-nya. Kurasa rangkaian huruf-huruf seperti alif laam miim, alif laam ra, haa miim, yaa siin, nuun, kaf ha ya ‘ain shaad adalah rumus-rumus

Tuhan yang dahsyat maknanya. Susah diungkapkan maknanya, tapi keagungannya bisa ditangkap oleh mereka yang memiliki cita rasa bahasa Arab yang tinggi. Jika susunan itu dianggap sebagai suatu ketidakberesan, orang-orang kafir Quraisy yang sangat tidak suka pada Al-Qur’an dan memusuhinya sejak dahulu tentu akan mengambil kesempatan adanya ketidakberesan itu untuk menghancurkan Al-Qur’an. Dan tentu mereka sudah mencela bahasa Al-Qur’an habis-habisan sepanjang sejarah. Namun kenyataannya, justru sebaliknya. Mereka mengakui keindahan bahasanya yang luar biasa. Mereka menganggap bahasa Al- Qur’an bukan bahasa manusia biasa tapi bahasa yang datang dari langit. Jadi kukira doktor itu benar-benar stupid. Tidak semestinya seorang doktor sekelas dia mengatakan hal seperti itu.”

Aku lalu menjelaskan kepada Maria segala hal berkaitan dengan alim laam miim dalam Al-Qur’an. Lengkap dengan segala rahasia yang digali oleh para ulama dan ahli tafsir. Maknanya, hikmahnya, dan pengaruhnya dalam jiwa. Juga kuterangkan bahwa pendapat Maria yang mengatakan huruf-huruf itu tak lain adalah rumus-rumus Tuhan yang maha dahsyat maknanya, dan hanya Tuhan yang tahu persis maknanya, ternyata merupakan pendapat yang dicenderungi mayoritas ulama tafsir. Maria girang sekali mendengarnya.

“Wah pendapat yang terlintas begitu saja dalam benak kok bisa sama dengan pendapat mayoritas ulama tafsir ya?” komentarnya sambil tersenyum bangga.

Aku ikut tersenyum.

Di dunia ini memang banyak sekali rahasia Tuhan yang tidak bisa dimengerti oleh manusia lemah seperti diriku. Termasuk kenapa ada gadis seperti Maria. Dan aku pun tidak merasa perlu untuk bertanya padanya kenapa tidak mengikuti ajaran Al-Qur’an. Pertanyaan itu kurasa sangat tidak tepat ditujukan pada gadis cerdas seperti Maria. Dia pasti punya alasan atas pilihannya. Inilah yang membuatku menganggap Maria adalah gadis aneh dan misterius. Di dunia ini banyak sekali hal-hal misterius. Masalah hidayah dan iman adalah masalah misterius. Sebab hanya Allah saja yang berhak menentukan siapa-siapa yang patut diberi hidayah. Abu Thalib adalah paman nabi yang mati-matian membela dakwah nabi. Cinta nabi pada beliau sama dengan cinta nabi pada ayah kandungnya sendiri. Tapi masalah hidayah hanya Allah yang berhak menentukan.

Nabi tidak bisa berbuat apa-apa atas nasib sang paman yang amat dicintainya itu. Juga hidayah untuk Maria. Hanya Allah yang berhak memberikannya. Mungkin, sejak azan berkumandang Maria telah membuka daun jendela kayunya. Dari balik kaca ia melihat ke bawah, menunggu aku keluar. Begitu aku tampak keluar menuju halaman apartemen, ia membuka jendela kacanya, dan memanggil dengan suara setengah berbisik. Ia tahu persis bahwa aku dua kali tiap dalam satu minggu keluar untuk talaqqi Al-Qur’an. Tiap hari Ahad dan Rabu. Berangkat setelah azan zhuhur berkumandang dan pulang habis Ashar. Dan ini hari Rabu. Seringkali ia titip sesuatu padaku. Biasanya tidak terlalu merepotkan. Seperti titip membelikan disket, memfotocopykan sesuatu, membelikan tinta print, dan sejenisnya yang mudah kutunaikan. Banyak toko alat tulis, tempat foto copy dan toko perlengkapan komputer di Hadayek Helwan. Jika tidak ada di sana, biasanya di Shubra El-Khaima ada.

Suhu udara benar-benar panas. Wajar saja Maria malas keluar. Toko alat tulis yang juga menjual disket hanya berjarak lima puluh meter dari apartemen. Namun ia lebih memilih titip dan menunggu sampai aku pulang nanti. Ini memang puncak musim panas. Laporan cuaca meramalkan akan berlangsung sampai minggu depan, rata-rata 39 sampai 41 derajat celcius. Ini baru di Cairo. Di Mesir bagian selatan dan Sudan entah berapa suhunya. Tentu lebih menggila. Ubun-ubunku terasa mendidih. Panggilan iqamat terdengar bersahut-sahutan. Panggilan mulia itu sangat menentramkan hati. Pintu-pintu meraih kebahagiaan dan kesejahteraan masih terbuka lebar-lebar. Kupercepat langkah. Tiga puluh meter di depan adalah Masjid Al-Fath Al-Islami. Masjid kesayangan. Masjid penuh kenangan tak terlupakan.

Masjid tempat aku mencurahkan suka dan deritaku selama belajar di sini. Tempat aku menitipkan rahasia kerinduanku yang memuncak, tujuh tahun sudah aku berpisah dengan ayah ibu. Tempat aku mengadu pada Yang Maha Pemberi rizki saat berada dalam keadaan kritis kehabisan uang. Saat hutang pada teman-teman menumpuk dan belum terbayarkan. Saat uang honor terjemahan terlambat datang. Tanda bahwa shalat berjamaah segera didirikan.

Tempat aku menata hati, merancang strategi, mempertebal azam dan keteguhan jiwa dalam perjuangan panjang. Begitu masuk masjid… Wusss!

Hembusan udara sejuk yang dipancarkan lima AC dalam masjid menyambut ramah. Alhamdulillah. Nikmat rasanya jika sudah berada di dalam masjid. Puluhan orang sudah berjajar rapi dalam shaf shalat jamaah. Kuletakkan topi dan tas cangklongku di bawah tiang dekat aku berdiri di barisan shaf kedua. Kedamaian menjalari seluruh syaraf dan gelegak jiwa begitu kuangkat takbir. Udara sejuk yang berhembus terasa mengelus-elus leher dan mukaku. Juga mengusap keringat yang tadi mengalir deras. Aku merasa tenteram dalam elusan kasih sayang Tuhan Yang Mahapenyayang. Dia terasa begitu dekat, lebih dekat dari urat leher, lebih dekat dari jantung yang berdetak.

2. Peristiwa di dalam Metro

Usai shalat, aku menyalami Syaikh Ahmad. Nama lengkapnya Syaikh Ahmad Taqiyyuddin Abdul Majid. Imam muda yang selama ini sangat dekat denganku. Beliau tidak pernah menyembunyikan senyumnya setiap kali berjumpa denganku. Beliau masih muda, umurnya baru tiga puluh satu, dan baru setengah tahun yang lalu ia meraih Magister Sejarah Islam dari Universitas Al Azhar. Anaknya baru satu, berumur dua tahun. Kini beliau bekerja di Kementerian Urusan Wakaf sambil menempuh program doktoralnya. Beliau juga menjadi dosen Sejarah Islam di Ma’had I’dadud Du’at17 yang dikelola oleh Jam’iyyah Syar’iyyah bekerjasama dengan Fakultas Dakwah, Universitas Al Azhar. Di seluruh Mesir sampai sekarang ma’had ini baru ada dua: di Ramsis dan di Hadayek Helwan.

Meskipun masih muda, namun kedalaman ilmu agama dan kefashihannya membaca serta mentafsirkan Al-Qur’an membuat masyarakat memanggilnya “Syaikh”. Kerendahan hati, dan komitmennya yang tinggi membela kebenaran membuat sosoknya dicintai dan dihormati semua lapisan masyarakat Hadayek Helwan dan sekitarnya. Yang menarik, dia dekat dengan kawula muda. Panggilan ‘Syaikh’ tidak membuatnya lantas merasa canggung untuk ikut sepak bola setiap Jum’at pagi bersama anak-anak muda. Jika Maria adalah gadis Koptik yang aneh. Aku merasa Syaikh Ahmad adalah ulama muda yang unik.

“Akh Fahri, mau ke mana?” tanya Syaikh ramah dengan senyum menghiasi wajahnya yang bersih. Jenggotnya tertata rapi. Kutatap wajah beliau sesaat. Sejatinya Syaikh Ahmad memang tampan. Tak kalah dengan Kazem Saheer, penyanyi tenar asal Irak yang digandrungi gadis-gadis remaja seantero Timur Tengah. Nada suaranya juga indah berwibawa. Tak heran jika beliau disayangi semua orang. Seandainya suara indah Kazem Saheer digunakan untuk membaca Al-Qur’an seperti Syaikh Ahmad mungkin akan lain cerita belantika selebritis Mesir.

“Seperti biasa Syaikh, ke Shubra,” jawabku datar.

Sekolah Tinggi Juru Dakwah. Saudara.

Beliau langsung paham aku mau ke mana dan mau apa. Sebab Syaikh Ahmad dulu juga belajar qiraah sab’ah pada Syaikh Utsman di Shubra. Sesekali bahkan masih datang ke sana. “Cuacanya buruk. Sangat panas. Apa tidak sebaiknya istrirahat saja? Jarak yang akan kau tempuh itu tidak dekat. Pikirkan juga kesehatanmu, Akh,” lanjut beliau sambil meletakkan tangan kanannya dipundak kiriku. “Semestinya memang begitu Syaikh. Tapi saya harus komitmen dengan jadwal. Jadwal adalah janji. Janji pada diri sendiri dan janji pada Syaikh Utsman untuk datang.”

“Masya Allah, semoga Allah menyertai langkahmu.”

“Amin,” sahutku pelan sambil melirik jam dinding di atas mihrab. Waktunya sudah mepet.

“Syaikh, saya pamit dulu,” kataku sambil bangkit berdiri. Syaikh Ahmad ikut berdiri. Kucangklong tas, kupakai topi dan kaca mata.

Syaikh Ahmad tersenyum melihat penampilanku.

“Dengan topi dan kaca mata hitammu itu kau seperti bintang film Hong Kong saja. Tak tampak sedikit pun kau seorang mahasiswa pascasarjana Al Azhar yang hafal Al-Qur’an.”

“Syaikh ini bisa saja,” sahutku sambil tersenyum, “mohon doanya.

Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam warahmatullah wa barakatuh.”

Di luar masjid, terik matahari dan gelombang angin panas langsung menyerang. Cepat-cepat kuayunkan kaki, berlari-lari kecil menuju mahathah metro yang berada tiga puluh lima meter di hadapanku. Ups, sampai juga akhirnya. Aku langsung menuju loket penjualan tiket.

“Ya Kapten, wahid Shubra!” seruku pada penjaga loket berkepala botak dan gemuk. Wajahnya penuh keringat, meskipun tepat di belakangnya ada kipas angin kecil berputar-putar. Ia tampak berkenan kusapa dengan kapten. Memang untuk menyapa lelaki yang tidak dikenal cukup memakai ‘ya kapten’ bisa juga ‘ya basya’ atau kalau agak tua ‘ya ammu’. Jika kira-kira sudah haji memakai ‘ya haj’.” Kapten, Shubra satu!

“Masyi ya Andonesy,” jawab penjaga loket sambil mengulurkan karcis kecil warna kuning kepadaku. Ia mengambil uang satu pound yang kuberikan dan memberi kembalian 20 piesters. Di pintu masuk karcis aku masukkan untuk membuka pintu penghalang. Setelah melewati pintu penghalang karcis itu kuambil lagi. Sebab tanpa karcis itu saya tidak akan bisa keluar di Shubra nanti.

Dan jika ada pemeriksaan di dalam metro karcis itu harus aku tunjukkan. Jika tidak bisa menunjukkan, akan kena denda. Biasanya sepuluh pound. Itu pun setelah dimaki-maki oleh petugas pemeriksa.

Bagi penduduk Mesir, khususnya Cairo, metro bisa dikatakan transportasi kebanggaan. Lumayan canggih. Mahattah bawah tanah yang ada di Attaba, Tahrir dan Ramsis kelihatan modern dan canggih. Itu wajar. Sebab arsiteknya, semuanya orang Perancis. Orang-orang Mesir sering menyombongkan diri begini, ‘Kalau Anda berada di mahattah metro Tahrir atau Ramsis itu sama saja Anda berada di salah satu mahattah metro kota Paris.’

Benarkah?

Aku tidak tahu, sebab aku tidak pernah pergi ke Paris. Tapi aku pernah membaca sebuah majalah, memang ada stasiun bawah tanah di kota Paris yang dibuat bernuansa Mesir kuno. Dinding-dindingnya diukir dengan Hieroglyph, huruf-huruf Mesir kuno. Beberapa sisinya dihiasi dengan patung-patung dan simbol-simbol Mesir kuno, seperti tugu Alexandria, kunci pyramid yang sekilas tampak seperti salib, patung Tutankhmoun, Tutmosis, Ramses III, Amenophis III, Cleopatra dan lain sebagainya. Nuansa seperti itu sangat kental di mahattah metro Anwar Sadat-Tahrir, yang berada tepat di jantung kota Cairo.

Sebuah metro biru kusam datang. Pintu-pintunya terbuka perlahan. Beberapa orang turun. Setelah itu, barulah para penumpang yang menunggu naik. Aku masuk gerbong nomor lima. Aku yakin sekali akan dapat tempat duduk. Dalam cuaca panas seperti ini pasti penumpang sepi. Begitu sampai di dalam, aku langsung mengedarkan pandangan mencari tempat duduk. Sayang, semua tempat duduk telah terisi. Bahkan ada lima penumpang yang berdiri. Sungguh mengherankan, bagaimana mungkin ini terjadi? Di hari-hari biasa yang tidak panas saja seringkali ada tempat duduk kosong. Baik, Orang Indonesia.

Aku mengerutkan kening. Dapat tempat duduk adalah juga rizki. Jika tidak dapat tempat duduk berarti belum rizkinya. Aku menggeser diri ke dekat pintu di mana ada kipas angin berputar-putar di atasnya. Namun kipas itu nyaris tak berguna. Udara panas yang diputar tetap saja panas. Metro melaju kencang. Udara yang masuk dari jendela juga panas. Padang pasir seperti mendidih. Semua penumpang basah oleh air peluh.

Seorang pemuda berjenggot tipis yang berdiri tak jauh dari tempat aku berdiri memandangi diriku dengan tersenyum. Aku membalas senyumnya. Ia mendekat dan mengulurkan tangannya. “Ana akhukum, 21 Ashraf,” ia memperkenalkan diri dengan sangat sopan. Ia menggunakan kalimat ‘akhukum’ berarti ia sangat yakin aku seorang muslim seperti dirinya.

“Ana akhukum, Fahri,” jawabku.

“Min Shin?”

Orang Mesir terlalu susah membedakan orang Asia Tenggara dengan orang China.

“La. Ana Andonesy.”

Kami pun lantas berbincang-bincang. Mula-mula aku memancingnya dengan masalah bola. Orang Mesir paling suka berbicara masalah bola. Terutama membicarakan persaingan tiga klub besar Mesir yaitu Ahli, Zamalek dan Ismaili.

Ia ternyata pendukung Zamalek. Dengan bangga ia berkata, “Syaikh Muhammad Jibril juga pendukung setia Zamalek.” Aku hanya tersenyum. Aku tidak perlu mempertanyakan lebih lanjut kebenaran kata-katanya. Tidak penting. Pendukung fanatik sebuah klub akan mencari banyak data untuk mendukung klub kesayangannya. Maka aku langsung menyambungnya dengan memuji kehebatan beberapa pemain andalan Zamalek. Terutama Hosam Hasan. Ia tampak senang. Tujuanku memang membuat dia merasa senang. Tak lebih. Aku merasa tak rugi membaca buku-buku Syaikh Abbas As-Sisi tentang bagaimana caranya mengambil hati orang lain. Pembicaraan terus melebar ke mana-mana, Ia sangat Aku saudaramu Dari China? Tidak. Aku orang Indonesia. senang ketika tahu bahwa aku mahasiswa pascasarjana Al Azhar. Lebih kaget ketika ia tahu aku hendak ke Shubra untuk talaqqi pada Syaikh Utsman.

Ia berkata,

“Di Helwan saya belajar qiraah riwayat Imam Hafsh pada Syaikh Hasan yang tak lain adalah murid Syaikh Utsman. Berkali-kali Syaikh Hasan memintaku untuk ikut belajar qiraah sab’ah langsung pada Syaikh Utsman, tapi aku tak ada waktu. Aku sudah terlalu sibuk dengan pekerjaan dan keluarga. Jadi, kau termasuk orang yang beruntung, orang Indonesia.”

Metro terus berjalan. Tak terasa sudah sampai daerah Thakanat Maadi.

“Akh Ashraf, kamu mau turun di mana?” tanyaku ketika metro perlahan berhenti dan beberapa orang bersiap turun.

“Sayyeda Zaenab. Insya Allah.”

Pintu metro terbuka. Beberapa orang turun. Dua kursi kosong. Kalau mau, aku bisa mengajak Ashraf mendudukinya. Namun ada seorang bapak setengah baya masih berdiri. Dia memandang ke luar jendela, tidak melihat ada dua bangku kosong. Kupersilakan dia duduk. Dia mengucapkan terima kasih. Kursi masih kosong satu. Sangat dekat denganku. Kupersilakan Ashraf duduk. Dia tidak mau, malah memaksaku duduk. Tiba-tiba mataku menangkap seorang perempuan berabaya biru tua, dengan jilbab dan cadar biru muda naik dari pintu yang satu, bukan dari pintu dekat yang ada di dekatku. Kuurungkan niat untuk duduk. Masih ada yang lebih berhak. Perempuan bercadar itu kupanggil dengan lambaian tangan. Ia paham maksudku. Ia mendekat dan duduk dengan mengucapkan, “Syukran!”

Metro atau kereta listrik terus melaju.

Ashraf kembali mengajakku berbincang. Kali ini tentang Amerika. Ia geram sekali pada Amerika. Seribu alasan ia beberkan. Kata-katanya menggebu seperti Presiden Gamal Abdul Naser berorasi memberi semangat dunia Arab dalam perang 1967.

“Ayatollah Khomeini benar, Amerika itu setan! Setan harus dienyahkan!”

katanya berapi-api. Orang Mesir memang suka bicara. Kalau sudah bicara ia merasa paling benar sendiri. Aku diam saja. Kubiarkan Ashraf berbicara sepuaspuasnya.

Hanya sesekali, pada saat yang tepat aku menyela. Sesekali aku menyapukan pandangan melihat keadaan sekeliling. Juga ke luar jendela agar tahu metro sudah melaju sampai di mana. Sekilas ujung mataku menangkap perempuan bercadar biru mengeluarkan mushaf dari tasnya, dan membacanya dengan tanpa suara. Atau mungkin dengan suara tapi sangat lirih sehingga aku tidak mendengarnya. Orang-orang membaca Al-Qur’an di metro, di bis, di stasiun dan di terminal adalah pemandangan yang tidak aneh di Cairo. Apalagi jika bulan puasa tiba.

Metro sampai di Maadi, kawasan elite di Cairo setelah Heliopolis, Dokki,

El-Zamalek dan Mohandesen. Sebagian orang malah mengatakan Maadi adalah kawasan paling elite. Lebih elite dari Heliopolis. Tidak terlalu penting membandingkan satu sama lain. Nama-nama itu semuanya nama kawasan elite.

Masing-masing punya kelebihan. Dokki terkenal sebagai tempatnya para diplomat tinggal. Mohandesen tempatnya para pengusaha dan selebritis. Sedangkan Maadi mungkin adalah kawasan yang paling teratur tata kotanya. Dirancang oleh kolonial Inggris. Jalan-jalannya lebar. Setiap rumah ada tamannya. Dan dekat sungai Nil. Tinggal di Maadi memiliki prestise sangat tinggi. Prestise-nya seumpama tinggal di Paris dibandingkan dengan tinggal di kota-kota besar lainnya di Eropa. Itu keterangan yang aku dapat dari Tuan Boutros, ayahnya Maria yang bekerja di sebuah bank swasta di Maadi. Masalah prestise memang sangat subjektif. Orang yang tinggal di kawasan agak kumuh Sayyeda Zaenab merasa lebih prestise dibandingkan dengan tinggal di kawasan lain di Cairo. Alasan mereka karena dekat dengan makam Sayyeda Zaenab, cucu Baginda Nabi Saw.

Demikian juga yang tinggal di dekat masjid Amru bin Ash. Mereka merasa lebih beruntung dan selalu bangga bisa tinggal di dekat masjid pertama yang didirikan di benua Afrika itu.

Begitu pintu metro terbuka, beberapa penumpang turun. Lalu beberapa orang naik-masuk. Mataku menangkap ada tiga orang bule masuk. Yang seorang nenek-nenek. Ia memakai kaos dan celana pendek sampai lutut. Wajahnya tampak pucat. Mungkin karena kepanasan. Ia diiringi seorang pemuda dan seorang perempuan muda. Mungkin anaknya atau cucunya. Keduanya memakai ransel.

Pemuda bule itu memakai topi berbendera Amerika dan berkaca mata hitam. Ia juga hanya berkaos sport putih dan celana pendek sampai lutut. Yang perempuan memakai kaos ketat tanpa lengan, you can see. Dan bercelana pendek ketat.

Semua bagian tubuhnya menonjol. Lekak-lekuknya jelas. Bagian pusarnya kelihatan. Ia seperti tidak berpakaian. Mereka berdua mengitarkan pandangan. Mencari tempat duduk. Sayang, tak ada yang kosong. Beberapa orang justru berdiri termasuk diriku.

Aku tersenyum pada Ashraf sambil berkata,

“Ashraf kau mau titip pesan pada Presiden Amerika nggak?”

“Apa maksudmu?”

“Itu, mumpung ada orang Amerika. Minggu depan mereka mungkin sudah kembali ke Amerika. Kau bisa titip pesan pada mereka agar presiden mereka tidak bertindak bodoh seperti yang kau katakan tadi.”

Ashraf menoleh ke kanan dan memandang tiga bule itu dengan raut tidak senang. Tiba-tiba ia berteriak, “Ya Amrikaniyyun, la’natullah ‘alaikum!”

Kontan para penumpang yang mendengar perkataan Ashraf itu melongok ke arah tiga bule yang baru masuk itu. Gerakan persis anak-anak ayam yang kaget atas kedatangan musang di kandangnya. Kusisir wajah orang-orang Mesir. Rautraut kurang simpati dan tidak senang. Apalagi pakaian perempuan muda Amerika itu bisa dikatakan tidak sopan. Orang-orang Mesir memang menganggap Amerika sebagai biang kerusakan di Timur Tengah. Orang-orang Mesir sangat marah pada Amerika yang mencoba mengadu domba umat Islam dengan umat Kristen Koptik.

Amerika pernah menuduh pemerintah Mesir dan kaum muslimin berlaku semenamena pada umat Koptik. Tentu saja tuduhan itu membuat gerah seluruh penduduk Mesir. Bapa Shnouda, pemimpin tertinggi dan kharismatik umat Kristen Koptik serta merta memberikan keterangan pers bahwa tuduhan Amerika dusta belaka. Sebuah tuduhan yang bertujuan hendak menghancurkan sendi-sendi persaudaraan umat Islam dan umat Koptik yang telah kuat mengakar berabad-abad lamanya di bumi Kinanah.

Untung ketiga orang Amerika itu tidak bisa bahasa Arab. Mereka kelihatannya tidak terpengaruh sama sekali dengan kata-kata yang diucapkan Ashraf. Memang, kalau sedang jengkel orang Mesir bisa mengatakan apa saja. Hai orang-orang Amerika, laknat Allah untuk kalian! Kinanah: salah satu julukan untuk bumi Mesir.

Pasar Sayyeda Zainab aku pernah melihat seorang penjual ikan marah-marah pada isterinya. Entah karena apa. Ia menghujani isterinya dengan sumpah serapah yang sangat kasar dan tidak nyaman di dengar telinga. Di antara kata-kata kasar yang kudengar adalah: Ya bintal haram, ya syarmuthah, ya bintal khinzir…! Bulu romaku sampai berdiri. Ngeri mendengarnya. Sang isteri juga tak mau kalah. Ia membalas dengan caci maki dan serapah yang tak kalah keras dan kotornya. Dan sumpah serapah yang mengandung laknat adalah termasuk paling kasar.

Telingaku paling tidak suka mendengar caci mencaci, apalagi umpatan melaknat. Tak ada yang berhak melaknat manusia kecuali Tuhan. Manusia jelasjelas telah dimuliakan oleh Tuhan. Tanpa membedakan siapa pun dia. Semua manusia telah dimuliakan Tuhan sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an, Wa laqad karramna banii Adam. Dan telah Kami muliakan anak keturunan Adam! Jika Tuhan telah memuliakan manusia, kenapa masih ada manusia yang mencaci dan melaknat sesama manusia? Apakah ia merasa lebih tinggi martabatnya daripada Tuhan? Tindakan Ashraf melaknat tiga turis Amerika itu sangat aku sesalkan.

Tindakannya jauh dari etika Al-Qur’an, padahal dia tiap hari membaca Al-Qur’an.

Ia telah menamatkan qiraah riwayat Imam Hafsh. Namun ia berhenti pada cara membacanya saja, tidak sampai pada penghayatan ruh kandungannya. Semoga Allah memberikan petunjuk di hatinya. Yang aku herankan, dalam kondisi panas seperti ini, kenapa bule-bule itu ada di dalam metro. Seandainya mau bepergian kenapa tidak memakai limousin atau taksi yang ber-AC. Dalam hati aku merasa kasihan pada mereka. Mereka seperti tersiksa. Basah oleh keringat. Wajah dan kulit mereka kemerahan. Yang paling kasihan adalah yang nenek-nenek. Beberapa kali ia menenggak air mineral. Mukanya tetap saja pucat. Mereka tidak biasa kepanasan seperti ini. Aku jadi teringat Majidov, teman dari Rusia. Ia sangat tidak tahan dengan panasnya Mesir. Ia tinggal di Madinatul Bu’uts, atau biasa disebut Bu’uts saja. Yaitu asrama mahasiswa Al Azhar dari seluruh penjuru dunia. Di Bu’uts tidak ada AC-nya. Jika musim panas tiba dia akan hengkang dari Bu’uts dan menyewa flat bersama beberapa temannya di kawasan Rab’ah El-Adawea. Mencari yang ada AC-nya.

Ya bintal haram (Hai anak haram/anak hasil perzinaan), Ya Syarmuthah (Hai pelacur), Ya bintal khinzir (Hai anak babi).

Tapi tidak semua mahasiswa dari Rusia seperti Majidov. Banyak juga yang tahan dengan musim panas. Tak ada yang bergerak mempersilakan nenek bule itu untuk duduk. Ini yang aku sesalkan. Beberapa lelaki muda atau setengah baya yang masih kuat tetap saja tidak mau berdiri dari tempat duduk mereka. Biasanya, begitu melihat orang tua, apalagi nenek-nenek, beberapa orang langsung berdiri menyilakan duduk. Tapi kali ini tidak. Lelaki bule itu mengajak bicara seorang pemuda Mesir berbaju kotak-kotak lengan pendek yang duduk di dekatnya. Sekilas di antara deru metro kutangkap maksud perkataan si bule. Ia minta kepada pemuda Mesir itu memberi kesempatan pada ibunya yang sudah tua untuk duduk. Mereka bertiga akan turun di Tahrir. Tapi pemuda Mesir itu sama sekali tidak menanggapinya.

Entah kenapa. Apa karena dia tidak paham bahasa Inggris, atau karena ketidaksukaannya pada orang Amerika? Aku tidak tahu.

Nenek bule itu kelihatannya tidak kuat lagi berdiri. Ia hendak duduk menggelosor di lantai. Belum sampai nenek bule itu benar-benar menggelosor, tiba-tiba perempuan bercadar yang tadi kupersilakan duduk itu berteriak mencegah,

“Mom, wait! Please, sit down here!”

Perempuan bercadar biru muda itu bangkit dari duduknya. Sang nenek dituntun dua anaknya beranjak ke tempat duduk. Setelah si nenek duduk, perempuan bule muda berdiri di samping perempuan bercadar. Aku melihat pemandangan yang sangat kontras. Sama-sama perempuan. Yang satu auratnya tertutup rapat. Tak ada bagian dari tubuhnnya yang membuat jantung lelaki berdesir. Yang satunya memakai pakaian sangat ketat, semua lekak-lekuk tubuhnya kelihatan, ditambah basah keringatnya bule itu nyaris seperti telanjang.

“Thank you. It’s very kind of you!” Perempuan bule muda mengungkapkan rasa terima kasih pada perempuan bercadar.

“You’re welcome,” lirih perempuan bercadar. Bahasa Inggrisnya bagus. Sama sekali tak kuduga. Keduanya lalu berkenalan dan berbincang-bincang. Perempuan bercadar minta maaf atas perlakuan saudara seiman yang mungkin kurang ramah. Ternyata lebih dari yang kunilai. Perempuan bercadar itu benar benar berbicara sefasih orang Inggris. Biasanya orang Mesir sangat susah berbahasa Inggris dengan fasih. Kata ‘friend’ selalu mereka ucapan ‘bren’. Huruf ‘f’ jadi ‘b’. Aku sering geli mendengarnya. Tapi perempuan bercadar ini sungguh fasih. Lebih fasih dari pembaca berita Nile TV. Perempuan bule tersenyum dan berkata,

“Oh not at all. It’s all right. Cuaca memang panas dan melelahkan.

Semuanya lelah. Dalam keadaan lelah terkadang susah untuk mengalah. Dan itu

sangat manusiawi.”

“Busyit! Hei perempuan bercadar, apa yang kau lakukan!”

Pemuda berbaju kotak-kotak bangkit dengan muka merah. Ia berdiri tepat

di samping perempuan bercadar dan membentaknya dengan kasar. Rupanya ia

mendengar dan mengerti percakapan mereka berdua.

Perempuan bercadar kaget. Namun aku tidak bisa menangkap raut

kagetnya sebab mukanya tertutup cadar. Yang bisa kutangkap adalah gerakan

kepalanya yang terperangah, kedua matanya yang sedikit menciut, kulit putih

antara dua matanya sedikit mengkerut, alisnya seperti mau bertemu.

“Hal a..ana khata’?”27 Ucap perempuan bercadar tergagap. Ia memakai

bahasa fusha28, bukan bahasa ‘amiyah.29 Maksudnya bisa dipahami, tapi

susunannya janggal. Apakah mungkin karena dirinya terlalu kaget atas bentakan

pemuda Mesir itu.

Mendengar jawaban seperti itu si pemuda malah semakin naik pitam. Ia

kembali membentak dan memaki-maki secara kasar dengan bahasa ‘amiyah,

“Yakhrab baitik!30 Kau telah menghina seluruh orang Mesir yang ada di

metro ini. Kau sungguh keterlaluan! Kelihatannya saja bercadar, sok alim, tapi

sebetulnya kau perempuan bangsat! Kau kira kami tidak tahu sopan-santun apa?

Sengaja kami mengacuhkan orang Amerika itu untuk sedikit memberi pelajaran.

Ee..bukannya kau mendukung kami. Kau malah mempersilakan setan-setan bule

itu duduk. Dan seolah paling baik, kau sok jadi pahlawan dengan memintakan

maaf atas nama kami semua. Kau ini siapa, heh?”

27 Hal ana khata’ ? Maksudnya, apakah saya salah? Susunannya yang tepat adalah Hal ana

mukhthi’ah?

28 Bahasa Arab yang fashih secara gramatikal, bukan bahasa pergaulan.

29 Bahasa Arab pergaulan, yang biasa digunakan dalam percakapan harian.

30 Yakhrab baitik! (Artinya secara bahasa semoga rumahmu roboh, biasanya digunakan untuk

mengumpat dalam bahasa Jawa senada dengan kata-kata: Bajingan! Dancouk! Dan sejenisnya).

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

23

Pemuda itu sudah keterlaluan. Aku berharap ada yang bertindak. Ashraf

dan seorang lelaki setengah baya berpakaian abu-abu mendekati pemuda dan

perempuan bercadar. Aku sedikit lega.

“Kau memang sungguh kurang ajar perempuan! Kau membela bule-bule

Amerika yang telah membuat bencana di mana-mana. Di Afganistan. Di

Palestina. Di Irak dan di mana-mana. Mereka juga tiada henti-hentinya

menggoyang negara kita. Kau ini muslimah macam apa, hah!?” Ashraf marah

sambil menuding-nuding perempuan bercadar itu.

Aku kaget bukan main. Aku tak mengira Ashraf akan berkata sekasar itu.

Kelegaanku berubah jadi kekecewaan mendalam.

“Meski kau bercadar dan membawa mushaf ke mana-mana, nilaimu tak

lebih dari seorang syarmuthah!”31 umpat lelaki berpakaian abu-abu.

Ini sudah keterlaluan. Menuduh seorang perempuan baik-baik sehina

pelacur tidak bisa dibenarkan.

Aku membaca istighfar dan shalawat berkali-kali. Aku sangat kecewa

pada mereka. Perempuan bercadar itu diam seribu bahasa. Matanya berkaca-kaca.

Bentakan, cacian, tudingan dan umpatan yang ditujukan padanya memang sangat

menyakitkan. Aku tak bisa diam. Kucopot topi yang menutupi kopiah putihku.

Lalu aku mendekati mereka sambil mencopot kaca mata hitamku.

“Ya jama’ah, shalli ‘alan nabi, shalli ‘alan nabi!”32 ucapku pada mereka

sehalus mungkin. Cara menurunkan amarah orang Mesir adalah dengan mengajak

membaca shalawat. Entah riwayatnya dulu bagaimana. Di mana-mana, di seluruh

Mesir, jika ada orang bertengkar atau marah, cara melerai dan meredamnya

pertama-tama adalah dengan mengajak membaca shalawat. Shalli ‘alan nabi,

artinya bacalah shalawat ke atas nabi. Cara ini biasanya sangat manjur.

Benar, mendengar ucapanku spontan mereka membaca shalawat. Juga

para penumpang metro lainnya yang mendengar. Orang Mesir tidak mau

dikatakan orang bakhil. Dan tiada yang lebih bakhil dari orang yang mendengar

nama nabi, atau diminta bershalawat tapi tidak mau mengucapkan shalawat.

Begitu penjelasan Syaikh Ahmad waktu kutanyakan ihwal cara aneh orang Mesir

31 Syarmuthah: Pelacur.

32 Wahai Jamaah (untuk menyapa orang banyak)! Bacalah shalawat ke atas nabi, bacalah

shalawat ke atas nabi!

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

24

dalam meredam amarah. Justru jika ada orang sedang marah lantas kita bilang

padanya, La taghdhab! (yang artinya: jangan marah!) terkadang malah akan

membuat ia semakin marah.

Lalu aku menjelaskan pada mereka bahwa yang dilakukan perempuan

bercadar itu benar. Bukanya menghina orang Mesir, justru sebaliknya. Dan

umpatan-umpatan yang ditujukan padanya itu sangat tidak sopan dan tidak bisa

dibenarkan. Aku beberkan alasan-alasan kemanusiaan. Mereka bukannya sadar,

tapi malah kembali naik pitam. Si pemuda marah dan mencela diriku dengan

sengit. Juga si bapak berpakaian abu-abu. Sementara Ashraf bilang, “Orang

Indonesia, sudahlah, kau jangan ikut campur urusan kami!”

Aku kembali mengajak mereka membaca shalawat. Aku nyaris kehabisan

akal. Akhirnya kusitir beberapa hadits nabi untuk menyadarkan mereka. Tapi

orang Mesir seringkali muncul besar kepalanya dan merasa paling menang

sendiri.

Pemuda Mesir malah menukas sengak, “Orang Indonesia, kau tahu apa

sok mengajari kami tentang Islam, heh! Belajar bahasa Arab saja baru kemarin

sore. Juz Amma entah hafal entah tidak. Sok pintar kamu! Sudah kau diam saja,

belajar baik-baik selama di sini dan jangan ikut campur urusan kami!”

Aku diam sesaat sambil berpikir bagaimana caranya menghadapi anak

turun Fir’aun yang sombong dan keras kepala ini. Aku melirik Ashraf. Mata kami

bertatapan. Aku berharap dia berlaku adil. Dia telah berkenalan denganku tadi.

Kami pernah akrab meskipun cuma sesaat. Kupandangi dia dengan bahasa mata

mencela. Ashraf menundukkan kepalanya, lalu berkata,

“Kapten, kau tidak boleh berkata seperti itu. Orang Indonesia ini sudah

menyelesaikan licence-nya di Al Azhar. Sekarang dia sedang menempuh program

magisternya. Walau bagaimana pun, dia seorang Azhari. Kau tidak boleh

mengecilkan dia. Dia hafal Al-Qur’an. Dia murid Syaikh Utsman Abdul Fattah

yang terkenal itu.”

Pembelaan Ashraf ini sangat berarti bagiku. Pemuda berbaju kotak-kotak

itu melirik kepadaku lalu menunduk. Mungkin dia malu telah berlaku tidak sopan

kepadaku. Tetapi lelaki berpakaian abu-abu kelihatannya tidak mau menerima

begitu saja.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

25

“Dari mana kau tahu? Apa kau teman satu kuliahnya?” tanyanya.

Ashraf tergagap, “Tidak. Aku tidak teman kuliahnya. Aku tahu saat

berkenalan dengannya tadi.”

“Kau terlalu mudah percaya. Bisa saja dia berbohong. Program magister di

Al Azhar tidak mudah. Jadi murid Syaikh Utsman juga tidak mudah.” Lelaki itu

mencela Ashraf. Dia lalu berpaling ke arahku dan berkata, “Hei orang Indonesia,

kalau benar kau S.2. di Al Azhar mana kartumu!?”

Lelaki itu membentak seperti polisi intel. Berurusan dengan orang awam

Mesir yang keras kepala memang harus sabar. Tapi jika mereka sudah tersentuh

hatinya, mereka akan bersikap ramah dan luar biasa bersahabat. Itulah salah satu

keistimewaan watak orang Mesir. Terpaksa kubuka tas cangklongku. Kuserahkan

dua kartu sekaligus. Kartu S.2. Al Azhar dan kartu keanggotaan talaqqi qiraah

sab’ah dari Syaikh Utsman. Tidak hanya itu, aku juga menyerahkan selembar

tashdiq33 resmi dari universitas. Tasdiq yang akan kugunakan untuk

memperpanjang visa Sabtu depan.

Lelaki setengah baya lalu meneliti dua kartu dan tashdiq yang masih gres

itu dengan seksama. Ia manggut-manggut, kemudian menyerahkannya pada

pemuda berbaju kotak-kotak yang keras kepala yang ada di sampingnya.

“Kebetulan saat ini saya sedang menuju masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq

untuk talaqqi. Kalau ada yang mau ikut menjumpai Syaikh Utsman boleh

menyertai saya.” Ujarku tenang penuh kemenangan.

Kulihat wajah mereka tidak sepitam tadi. Sudah lebih mencair. Bahkan

ada gurat rasa malu pada wajah mereka. Jika kebenaran ada di depan mata, orang

Mesir mudah luluh hatinya.

“Maafkan kelancangan kami, Orang Indonesia. Tapi perempuan bercadar

ini tidak pantas dibela. Ia telah melakukan tindakan bodoh!” kata pemuda Mesir

berbaju kotak-kotak sambil menyerahkan kembali dua kartu dan tashdiq

kepadaku.

33 Tashdiq adalah surat keterangan resmi dari Universitas, bahwa pemiliknya benar-benar

mahasiswa pada fakultas, jurusan dan program tertentu di universitas itu. Tashdiq biasanya

diperlukan untuk urusan-urusan resmi. Misalnya perpanjangan visa belajar, pengambilan visa haji,

meminta atau memperpanjang beasiswa pada suatu lembaga dan lain sebagainya.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

26

Aku menghela nafas panjang. Metro melaju kencang menembus udara

panas. Sesekali debu masuk berhamburan.

“Terus terang, aku sangat kecewa pada kalian! Ternyata sifat kalian tidak

seperti yang digambarkan baginda Nabi. Beliau pernah bersabda bahwa orangorang

Mesir sangat halus dan ramah, maka beliau memerintahkan kepada

shahabatnya, jika kelak membuka bumi Mesir hendaknya bersikap halus dan

ramah. Tapi ternyata kalian sangat kasar. Aku yakin kalian bukan asli orang

Mesir. Mungkin kalian sejatinya sebangsa Bani Israel. Orang Mesir asli itu seperti

Syaikh Muhammad Mutawalli Sya’rawi yang ramah dan pemurah,” ucapku datar.

Aku yakin akan membuat hati orang Mesir yang mendengarnya bagaikan

tersengat aliran listrik.

“Maafkan kami, Orang Indonesia. Kami memang emosi tadi. Tapi jangan

kau katakan kami bukan orang Mesir. Jangan pula kau katakan kami ini sebangsa

Bani Israel. Kami asli Mesir. Kami satu moyang dengan Syaikh Sya’rawi

rahimahullah,” lelaki setengah baya itu tidak terima. Syaikh Sya’rawi memang

seorang ulama yang sangat merakyat. Sangat dicintai orang Mesir. Hampir semua

orang Mesir mengenal dan mencintai beliau. Mereka sangat bangga memiliki

seorang Sya’rawi yang dihormati di seantero penjuru Arab.

“Yang aku tahu, selama ini, orang Mesir asli sangat memuliakan tamu.

Orang Mesir asli sangat ramah, pemurah, dan hatinya lembut penuh kasih sayang.

Sifat mereka seperti sifat Nabi Yusuf dan Nabi Ya’qub. Syaikh Sya’rawi, Syaikh

Abdul Halim Mahmud, Syaikh Muhammad Ghazali, Syaikh Muhammad Hasan,

Syaikh Kisyk, Syaikh Muhammad Jibril, Syaikh Athea Shaqr, Syaikh Ismail

Diftar, Syaikh Utsman dan ulama lainnya adalah contoh nyata orang Mesir asli

yang berhati lembut, sangat memuliakan tamu dan sangat memanusiakan

manusia. Tapi apa yang baru saja kalian lakukan?! Kalian sama sekali tidak

memanusiakan manusia dan tidak punya rasa hormat sedikit pun pada tamu

kalian. Orang bule yang sudah nenek-nenek itu adalah tamu kalian. Mereka

bertiga tamu kalian. Tetapi kenapa kalian malah melaknatnya. Dan ketika saudari

kita yang bercadar ini berlaku sebagai seorang muslimah sejati dan sebagai

seorang Mesir yang ramah, kenapa malah kalian cela habis-habisan!? Kalian

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

27

bahkan menyumpahinya dengan perkataan kasar yang sangat menusuk perasaan

dan tidak layak diucapkan oleh mulut orang yang beriman! ”

“Tapi Amerika sudah keterlaluan! Apa salah jika kami sedikit saja

mengungkapkan kejengkelan kami dengan memberi pelajaran sedikit saja pada

orang-orang Amerika itu?!” Lelaki setengah baya masih berusaha membenarkan

tindakannya. Aku tidak merasa aneh. Begitulah orang Mesir, selalu merasa benar.

Dan nanti akan luluh jika berhadapan dengan kebenaran yang seterang matahari.

“Kita semua tidak menyukai tindak kezhaliman yang dilakukan siapa saja.

Termasuk yang dilakukan Amerika. Tapi tindakan kalian seperti itu tidak benar

dan jauh dari tuntunan ajaran baginda Nabi yang indah.”

“Lalu kami harus berbuat apa dan bagaimana? Ini mumpung ada orang

Amerika. Mumpung ada kesempatan. Dengan sedikit pelajaran mereka akan tahu

bahwa kami tidak menyukai kezhaliman mereka. Biar nanti kalau pulang ke

negaranya mereka bercerita pada tetangganya bagaimana tidak sukanya kami pada

mereka!”

“Justru tindakan kalian yang tidak dewasa seperti anak-anak ini akan

menguatkan opini media massa Amerika yang selama ini beranggapan orang

Islam kasar dan tidak punya perikemanusiaan. Padahal baginda Rasul

mengajarkan kita menghormati tamu. Apakah kalian lupa, beliau bersabda, siapa

yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hormatilah tamunya. Mereka

bertiga adalah tamu di bumi Kinanah ini. Harus dihormati sebaik-baiknya. Itu jika

kalian merasa beriman kepada Allah dan hari akhir. Jika tidak, ya terserah!

Lakukanlah apa yang ingin kalian lakukan. Tapi jangan sekali-kali kalian

menamakan diri kalian bagian dari umat Islam. Sebab tindakan kalian yang tidak

menghormati tamu itu jauh dari ajaran Islam.”

Lelaki setengah baya itu diam. Pemuda berbaju kotak-kotak menunduk.

Ashraf membisu. Para penumpang yang lain, termasuk perempuan bercadar juga

diam. Metro terus berjalan dengan suara bergemuruh, sesekali mencericit.

“Coba kalian jawab pertanyaanku ini. Kenapa kalian berani menyakiti

Rasulullah?!” tanyaku sambil memandang ketiga orang Mesir bergantian. Mereka

agak terkejut mendengar pertanyaanku itu.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

28

“Akhi, mana mungkin kami berani menyakiti Rasulullah yang kami

cintai,” jawab Ashraf.

“Kenapa kalian kelak di hari akhir berani berseteru di hadapan Allah

melawan Rasulullah?” tanyaku lagi.

“Akhi, kau melontarkan pertanyaan gila. Kita semua di hari akhir kelak

mengharap syafaat Rasulullah, bagaimana mungkin kami berani berseteru dengan

beliau di hadapan Allah!” jawab Ashraf.

“Tapi kalian telah melakukan tindakan sangat lancang. Kalian telah

menyakiti Rasulullah. Kalian telah menantang Rasulullah untuk berseteru di

hadapan Allah kelak di hari akhir!” ucapku tegas sedikit keras.

Lelaki setengah baya, Ashraf, pemuda berbaju kotak-kotak dan beberapa

penumpang metro yang mendengar ucapanku semuanya tersentak kaget.

“Apa maksudmu, Andonesy? Kau jangan bicara sembarangan!” jawab

lelaki setengah baya sedikit emosi.

“Paman, aku tidak berkata sembarangan. Aku akan sangat malu pada

diriku sendiri jika berkata dan bertindak sembarangan. Baiklah, biar aku jelaskan.

Dan setelah aku jelaskan kalian boleh menilai apakah aku berkata sembarangan

atau bukan. Harus kalian mengerti, bahwa ketiga orang bule ini selain tamu kalian

mereka sama dengan ahlu dzimmah. Tentu kalian tahu apa itu ahlu dzimmah.

Disebut ahlu dzimmah karena mereka berada dalam jaminan Allah, dalam

jaminan Rasul-Nya, dan dalam jaminan jamaah kaum muslimin. Ahlu dzimmah

adalah semua orang non muslim yang berada di dalam negara tempat kaum

muslimin secara baik-baik, tidak ilegal, dengan membayar jizyah dan mentaati

peraturan yang ada dalam negara itu. Hak mereka sama dengan hak kaum

muslimin. Darah dan kehormatan mereka sama dengan darah dan kehormatan

kaum muslimin. Mereka harus dijaga dan dilindungi. Tidak boleh disakiti sedikit

pun. Dan kalian pasti tahu, tiga turis Amerika ini masuk ke Mesir secara resmi.

Mereka membayar visa. Kalau tidak percaya coba saja lihat paspornya. Maka

mereka hukumnya sama dengan ahlu dzimmah. Darah dan kehormatan mereka

harus kita lindungi. Itu yang diajarkan Rasulullah Saw. Tidakkah kalian dengar

sabda beliau, ‘Barangsiapa menyakiti orang zhimmi (ahlu zhimmah) maka aku

akan menjadi seterunya. Dan siapa yang aku menjadi seterunya dia pasti kalah di

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

29

hari kiamat.’34 Beliau juga memperingatkan, ‘Barangsiapa yang menyakiti orang

dzimmi, dia telah menyakiti diriku dan barangsiapa menyakiti diriku berarti dia

menyakiti Allah.’35 Begitulah Islam mengajarkan bagaimana memperlakukan non

muslim dan para tamu asing yang masuk secara resmi dan baik-baik di negara

kaum muslimin. Imam Ali bahkan berkata, ‘Begitu membayar jizyah, harta

mereka menjadi sama harus dijaganya dengan harta kita, darah mereka sama

nilainya dengan darah kita.’ Dan para turis itu telah membayar visa dan ongkos

administrasi lainnya, sama dengan membayar jizyah. Mereka menjadi tamu resmi,

tidak ilegal, maka harta, kehormatan dan darah mereka wajib kita jaga bersamasama.

Jika tidak, jika kita sampai menyakiti mereka, maka berarti kita telah

menyakiti baginda Nabi, kita juga telah menyakiti Allah. Kalau kita telah lancang

berani menyakiti Allah dan Rasul-Nya, maka siapakah diri kita ini? Masih

pantaskan kita mengaku mengikuti ajaran baginda Nabi?”

Lelaki setengah baya itu tampak berkaca-kaca. Ia beristighfar berkali-kali.

Lalu mendekati diriku. Memegang kepalaku dengan kedua tangannya dan

mengecup kepalaku sambil berkata, “Allah yaftah ‘alaik, ya bunayya! Allah

yaftah ‘alaik! Jazakallah khaira!”36 Ia telah tersentuh. Hatinya telah lembut.

Setelah itu giliran Ashraf merangkulku.

“Senang sekali aku bertemu dengan orang sepertimu, Fahri!” katanya.

Aku tersenyum, ia pun tersenyum. Pemuda berbaju kotak-kotak lalu

mempersilakan pria bule yang berdiri di dekat neneknya untuk duduk di tempat

duduknya. Dua pemuda Mesir yang duduk di depan nenek bule berdiri dan

mempersilakan pada perempuan bercadar dan perempuan bule untuk duduk.

Begitulah.

Salah satu keindahan hidup di Mesir adalah penduduknya yang lembut

hatinya. Jika sudah tersentuh mereka akan memperlakukan kita seumpama raja.

Mereka terkadang keras kepala, tapi jika sudah jinak dan luluh mereka bisa

melakukan kebaikan seperti malaikat. Mereka kalau marah meledak-ledak tapi

kalau sudah reda benar-benar reda dan hilang tanpa bekas. Tak ada dendam di

34 Diriwayatkan oleh Al-Khathib dengan sanad baik.

35 Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dengan sanad baik.

36 Semoga Allah membuka hatimu (menambahkan ilmumu) Anakku! Dan semoga Allah

membalasmu dengan kebaikan!

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

30

belakang yang diingat sampai tujuh keturunan seperti orang Jawa. Mereka mudah

menerima kebenaran dari siapa saja.

Metro terus melaju. Tak terasa sudah sampai mahattah Mar Girgis. Ashraf

mendekatkan diri ke pintu. Ia bersiap-siap. Mahattah depan adalah El-Malik El-

Saleh, setelah itu Sayyeda Zeinab dan ia akan turun di sana. Aku menghitung

masih ada tujuh mahattah baru sampai di Ramsis. Setelah itu aku akan pindah

metro jurusan Shubra El-Khaima. Perjalanan masih jauh. Metro kembali berjalan.

Pelan-pelan lalu semakin kencang. Tak lama kemudian sampai di El-Malik El-

Saleh. Metro berhenti. Pintu dibuka. Beberapa orang turun. Lelaki setengah baya

hendak turun. Sebelum turun ia menyalami diriku dan mengucapkan terima kasih

sambil mulutnya tiada henti mendoakan diriku. Aku mengucapkan amin berkalikali.

Topi dan kaca mata hitamku kembali aku pakai. Tak jauh dariku, perempuan

bercadar nampak asyik berbincang dengan perempuan bule. Sedikit-sedikit

telingaku menangkap isi perbincangan mereka. Rupanya perempuan bercadar

sedang menjelaskan semua yang tadi terjadi. Kejengkelan orang-orang Mesir pada

Amerika. Kekeliruan mereka serta pembetulan-pembetulan yang aku lakukan.

Perempuan bercadar juga menjelaskan maksud dari hadits-hadits nabi yang tadi

aku ucapkan dengan bahasa Inggris yang fasih. Perempuan bule itu menganggukanggukkan

kepala. Sampai di Sayyeda Zeinab, Ashraf turun setelah terlebih

dahulu melambaikan tangan padaku. Seorang ibu yang duduk di samping nenek

bule turun. Kursinya kosong. Aku bisa duduk di sana kalau mau. Tapi kulihat

seorang gadis kecil membawa tas belanja masuk. Langsung kupersilakan dia

duduk.

Metro kembali melaju. Perempuan bercadar dan perempuan bule masih

berbincang-bincang dengan akrabnya. Tapi kali ini aku tidak mendengar dengan

jelas apa yang mereka perbincangkan. Angin panas masuk melalui jendela. Aku

memandang ke luar. Rumah-rumah penduduk tampak kotak-kotak tak teratur

seperti kardus bertumpukan tak teratur. Metro masuk ke lorong bawah tanah.

Suasana gelap sesaat. Lalu lampu-lampu metro menyala. Tak lama kemudian

metro sampai mahattah Saad Zaghloul dan berhenti. Beberapa orang turun dan

naik. Tiga bule itu bersiap hendak turun, juga perempuan bercadar. Berarti mereka

mau turun di Tahrir. Perempuan bercadar masih bercakap dengan perempuan

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

31

bule. Keduanya sangat dekat denganku. Aku bisa mendengar dengan jelas apa

yang mereka bicarakan. Tentang asal mereka masing. Perempuan bercadar itu

ternyata lahir di Jerman, dan besar juga di Jerman. Namun ia berdarah Jerman,

Turki dan Palestina. Sedangkan perempuan bule lahir dan besar di Amerika. Ia

berdarah Inggris dan Spanyol. Keduanya bertukar kartu nama.

Perempuan bule tepat berada di depanku. Wajahnya masih menghadap

perempuan bercadar. Metro bercericit mengerem. Gerbong sedikit goyang. Tubuh

perempuan bule bergoyang. Saat itulah dia melihat diriku. Ia tersenyum sambil

mengulurkan tangannya kepadaku dan berkata,

“Hai Indonesian, thank’s for everything. My name’s Alicia.”

“Oh, you’re welcome. My name is Fahri,” jawabku sambil menangkupkan

kedua tanganku di depan dada, aku tidak mungkin menjabat tangannya.

“Ini bukan berarti saya tidak menghormati Anda. Dalam ajaran Islam,

seorang lelaki tidak boleh bersalaman dan bersentuhan dengan perempuan selain

isteri dan mahramnya.” Aku menjelaskan agar dia tidak salah faham.

Alicia tersenyum dan berseloroh, “Oh, never mind. And this is my name

card, for you.” Ia memberikan kartu namanya.

“Thank’s,” ujarku sambil menerima kartu namanya.

“It’s a pleasure.”

Metro berhenti.

Alicia, neneknya dan saudaranya mendekati pintu hendak keluar.

Perempuan bercadar masih berdiri di tempatnya. Ia melihat ke arah orang-orang

yang hendak turun. Perlahan pintu dibuka. Ketika orang-orang mulai turun,

perempuan bercadar itu bergerak melangkah, ia menyempatkan untuk menyapaku,

“Indonesian, thank you.”

Aku teringat dia orang Jerman. Aku iseng menjawab dengan bahasa

Jerman,

“Bitte!”

Agaknya perempuan bercadar itu kaget mendengar jawabanku dengan

bahasa Jerman. Ia urung melangkah ke pintu. Ia malah menatap diriku dengan

sorat mata penuh tanda tanya.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

32

“Sprechen Sie Deutsch?”37 tanyanya dengan bahasa Jerman. Ia mungkin

ingin langsung meyakinkan dirinya bahwa apa yang tadi ia dengarkan dariku

benar-benar bahasa Jerman. Bahwa aku bisa berbahasa Jerman. Bahwa ia tidak

salah dengar.

“Ja, ein wenig.38 Alhamdulillah!” jawabku tenang. Kalau sekadar

bercakap dengan bahasa Jerman insya Allah tidak terlalu susah. Kalau aku disuruh

membuat tesis dengan bahasa Jerman baru menyerah.

“Sind Sie Herr Fahri?”39

Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Ia bertanya seperti itu. Berarti

ia benar-benar mendengarkan dengan baik pendebatanku dengan tiga orang Mesir

tadi sehingga tahu namaku. Atau dia mendengarkan aku berkenalan dengan

Alicia.

“Ja. Mein name ist Fahri.”40 Jawabku.

“Mein name ist Aisha,” sahutnya sambil menyerahkan kartu nama. Ia lalu

menyodorkan buku notes kecil dan pulpen.

“Bitte, schreiben Sie ihren namen!”41 katanya.

Kuterima buku notes kecil dan pulpen itu. Aku paham maksud Aisha,

tentu tidak sekadar nama tapi dilengkapi dengan alamat atau nomor telpon.

Masinis metro membunyikan tanda alarm bahwa sebentar lagi pintu metro akan

ditutup dan metro akan meneruskan perjalanan. Aku hanya menuliskan nama dan

nomor handphone-ku. Lalu kuserahkan kembali padanya. Aisha langsung

bergegas turun sambil berkata,

“Danke, auf wiedersehn!”42

“Auf wiedersehn!” jawabku.

Metro kembali berjalan. Ada tempat kosong. Saatnya aku duduk. Sudah

separuh perjalanan lebih. Sudah setengah dua lebih lima menit. Waktu masih

cukup. Insya Allah sampai di hadapan Syaikh Utsman tepat pada waktunya.

Kalaupun terlambat hanya beberapa menit saja. Masih dalam batas yang bisa

37 Kau berbicara bahasa Jerman.

38 Ya. Sedikit-sedikit.

39 Apakah Anda tuan Fahri.

40 Ya nama saya Fahri.

41 Maaf, bisa tuliskan nama Anda.

42 Terima kasih, sampai bertemu lagi.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

33

dimaafkan. Dengan duduk aku merasa lebih tenang. Ini saatnya aku mengulang

dan memperbaiki hafalan Al-Qur’an yang akan aku setorkan pada Syaikh Utsman.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

34

3. Keributan Tengah Malam

Aku sampai di flat jam lima lebih seperempat. Siang yang melelahkan.

Ubun-ubun kepalaku rasanya mendidih. Cuaca benar-benar panas. Yang

berangkat talaqqi pada Syaikh Utsman hanya tiga orang. Aku, Mahmoud dan

Hisyam. Syaikh Utsman jangan ditanya. Disiplin beliau luar biasa. Meskipun

cuma tiga yang hadir, waktu talaqqi tetap seperti biasa. Jadi, kami bertiga

membaca tiga kali lipat dari biasanya. Jatah membaca Al-Qur’an sepuluh orang

kami bagi bertiga. Untungnya masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq ber-AC. Jika tidak,

aku tak tahu seperti apa menderitanya kami. Mungkin konsentrasi kami akan

berantakan, dan kami tidak bisa membaca seperti yang diharapkan.

Seperti mengerti keinginan kami, begitu selesai talaqqi, Amu Farhat,

takmir masjid yang baik hati itu membawakan empat gelas tamar hindi43 dingin.

Bukan main segarnya ketika minuman segar itu menyentuh lidah dan

tenggorokan. Selesai minum aku pulang. Mahmoud, Hisyam, Amu Farhat dan

Syaikh Utsman meneruskan perbincangan menunggu ashar.

Perjalanan pulang ternyata lebih panas dari berangkat. Antara pukul

setengah empat hingga pukul lima adalah puncak panas siang itu. Berada di dalam

metro rasanya seperti berada dalam oven. Kondisi itu nyaris membuatku lupa

akan titipan Maria. Aku teringat ketika keluar dari mahattah Hadayek Helwan.

Ada dua toko alat tulis. Kucari di sana. Dua-duanya kosong.. Aku melangkah ke

Pyramid Com. Sebuah rental komputer yang biasanya juga menjual disket.

Malang! Rental itu tutup. Terpaksa aku kembali ke mahattah dan naik metro ke

Helwan. Di kota Helwan ada pasar dan toko-toko cukup besar. Di sana

kudapatkan juga disket itu. Aku beli empat. Dua untuk Maria. Dan dua untuk

diriku sendiri. Kusempatkan mampir ke masjid yang berada tepat di sebelah barat

mahattah Helwan untuk shalat ashar.

Terik matahari masih menyengat ketika aku keluar masjid untuk pulang.

Di tengah perjalanan aku melewati Universitas Helwan yang lengang. Hanya

seorang polisi berpakaian lusuh yang menjaga gerbangnya. Tampangnya

mengenaskan. Masih muda, tapi kurus kering. Seperti pohon pisang kering. Atau

43 Air buah asam.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

35

seperti dendeng di Saudi kala musim haji. Mukanya tampak kering. Panas sahara

seperti menghisap habis darahnya. Ia pasti prajurit wajib militer yang biasa

disebut duf’ah. Polisi paling menderita karena bertugas dengan sangat terpaksa.

Tanpa gaji memadai. Hanya beberapa pound saja. Wajar jika tampangnya

mengenaskan. Bisa jadi ia masih berstatus mahasiswa. Karena memang seluruh

laki-laki Mesir terkena wajib militer. Seorang kumsari44 mendekat. Ia gemuk,

kepalanya bulat penuh keringat. Perutnya buncit seperti balon mau meletus. Beda

sekali dengan polisi penjaga gerbang universitas itu. Dunia ini memang penuh

perbedaan-perbedaan dan hal-hal kontras yang terkadang tidak mudah dimengerti.

Metro terus melaju.

Sampai di flat, tenagaku nyaris habis. Kulepas sepatu dan kaos kaki lalu

masuk kamar. Sampai di kamar langsung kunyalakan kipas angin, kulepas tas,

topi, kaca mata hitam, dan kemeja putihku. Kuusap mukaku dengan tissu. Hitam.

Banyak debu menempel. Aku lalu beranjak ke ruang tengah, membuka lemari es,

mencari yang dingin-dingin untuk menyegarkan badan. Begitu membuka pintu

lemari es mataku membelalak berbinar. Ada sebotol ashir ashab.45 Dingin.

Kutuangkan untuk satu gelas. Sambil membawa gelas berisia ashir ashab aku

berteriak,

“Siapa nih yang beli ashir ashab. Pengertian sekali. Syukran ya. Semoga

umurnya diberkahi Allah.”

Rudi keluar dari kamarnya dengan wajah ceria.

“Mas. Ashir ashab itu bukan kami yang beli.”

“Terus dapat dari mana?”

“Tadi diberi oleh Maria.”

“Apa? Diberi oleh Maria?”

“Iya. Katanya untuk Mas. Makanya masih utuh satu botol. Kami tidak

menyentuhnya sebelum dapat izin dari Mas. Sekarang kami boleh ikut mencicipi

‘kan Mas?”

“Ah kamu ini ada-ada saja. Kalau ambil ya ambil saja. Yang penting aku

disisain. Pakai menunggu izin segala.”

44 Kondektur.

45 Sari air tebu. (Minuman paling memasyarakat di Mesir saat musim panas).

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

36

“Masalahnya ini dari Maria, Mas. Sepertinya puteri Tuan Boutros itu

perhatian sekali sama Mas. Jangan-jangan dia jatuh hati sama Mas.”

“Hus jangan ngomong sembarangan! Mereka itu memang tetangga yang

baik. Sejak awal kita tinggal di sini mereka sudah baik sama kita. Bukan sekali ini

mereka memberi sesuatu pada kita.”

“Tapi kenapa Maria bilang untuk Mas. Bukan untuk kita semua?”

“Lha ketahuan ‘kan? Kau cemburu, jangan-jangan kau yang jatuh cinta.

Ya udah nanti biar kusampaikan sama Maria dan Tuan Boutros ayahnya, kalau

memberi sesuatu biar yang disebut namamu hehehe.”

“Jangan Mas. Bukan itu maksudku?”

“Terus?”

“Tapi Maria sepertinya punya perhatian lebih pada Mas.”

“Akh Rudi, kamu jangan berprasangka yang bukan-bukan. Kamu ‘kan

tahu. Maria berbuat begitu atas nama keluaganya, atas petunjuk ayahnya yang

baik hati itu. Dan karena kepala keluarga di rumah ini adalah aku, maka tiap kali

memberi makanan, minuman atau menyampaikan sesuatu ya selalu lewat aku, as

a leader here. Dia menyampaikan sesuatu atas nama keluarganya dan aku

dianggap representasi kalian semua. Jadi ini bukan hanya interaksi dua person

saja, tapi dua keluarga. Bahkan lebih besar dari itu, dua bangsa dan dua penganut

keyakinan yang berbeda. Inilah keharmonisan hidup sebagai umat manusia yang

beradab di muka bumi ini. Sudahlah kau jangan memikirkan hal yang terlalu jauh.

Tugas kita di sini adalah belajar. Kita belajar sebaik-baiknya. Di antaranya adalah

belajar bertetangga yang baik. Karena kita telah diberi, ya nanti kita gantian

memberi sesuatu pada mereka. Wa idza huyyitum bi tahiyyatin fa hayyu bi

ahasana minha!”46

“Saya mengerti, Mas. Afwan jika ucapan saya tadi ada yang kurang

berkenan.”

“Udah jangan dipikir. Emm..bagaimana makalahmu? Sudah selesai?”

“Alhamdulillah, Mas.”

“Kapan dipresentasikan?”

“Sabtu sore.”

46 Dan jika kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah

penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya (QS. An-Nisaa’: 86)

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

37

“Di mana?”

“Di Wisma Nusantara.”

“Ma’at taufiq.”47

Aku melangkah ke kamar sambil membawa segelas ashir ashab.

Kuselonjorkan kakiku di atas karpet. Punggungku kusandarkan ke pinggir tempat

tidur. Untung tembok apartemen ini tebal. Jendelanya rapat. Sehingga udara panas

di luar apartemen tidak mudah menembus masuk. Meskipun agak hangat tapi

tidak sepanas di luar. Dan dengan kipas angin sudah cukup membuat udara yang

hangat itu menjadi sejuk. Kuteguk ashir ashab. Perlahan. Dingin mengaliri

tenggorokan. Oh luar biasa nikmatnya. Di kawasan beriklim panas, seperti Mesir

dan negara Timur Tengah lainnya, air dingin memang sangat menyenangkan. Jika

air dingin itu membasahi tenggorokan yang kering rasanya seperti meneguk air

sejuk dari surga, tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Orang yang kehausan di

tengah sahara yang paling ia damba dan ia cinta adalah air dingin penawar

dahaga. Tak ada yang lebih ia cinta dari itu. Di sinilah baru bisa kurasakan betapa

dahsyat doa baginda Nabi,

‘Ya Allah jadikanlah cintaku kepada-Mu melebihi cintaku pada harta,

keluarga dan air yang dingin’.

Beliau meminta agar cintanya kepada Allah melebihi cintanya pada air

yang dingin, yang sangat dicintai, disukai, dan diingini oleh siapa saja yang

kehausan di musim panas. Di daerah yang beriklim panas, cinta pada air yang

sejuk dingin dirasakan oleh siapa saja, oleh semua manusia. Jika cinta kepada

Allah telah melebihi cintanya seseorang yang sekarat kehausan di tengah sahara

pada air dingin, maka itu adalah cinta yang luar biasa. Sama saja dengan melebihi

cinta pada nyawa sendiri. Dan memang semestinya demikianlah cinta sejati

kepada Allah Azza Wa Jalla. Jika direnungkan benar-benar, baginda Nabi

sejatinya telah mengajarkan idiom cinta yang begitu indah.

Setelah keringat hilang, dan ubun-ubun kepala mulai dingin aku bangkit

hendak mengambil handuk. Aku harus mandi, badan rasanya tidak nyaman. Harus

dibersihkan dan disegarkan. Baru menyentuh handuk, handphone-ku memerik

singkat. Ada sms masuk. Kubuka. Dari Maria,

47 Semoga sukses.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

38

“Sudah pulang ya? Bagaimana dengan titipanku, dapat?”

Langsung kujawab,

“Dapat. Terima kasih atas ashir ashabnya.”

Kuletakkan handphone-ku di atas meja. Aku langsung bergegas mandi.

Baru menutup kamar mandi yang bersebelahan dengan kamarku, kudengar si

handphone memekik lagi. Maria pasti mengirim pesan balik. Ah, biar, nanti saja

setelah mandi. Kuputar kran wastafel. Aku ingin cuci tangan. Air mengalir.

Kusentuh. Hangat sekali. Berarti pipa-pipa yang berada di dalam tanah berpasir

yang mengalirkan air dari tandon raksasa itu telah panas. Aku jadi teringat saat

umrah ke Saudi di puncak musim panas tahun lalu. Baik siang atau pun malam,

kalau hendak mandi harus mendinginkan air dulu di ember besar. Sebab air yang

keluar dari kran sangat panas. Harus ditampung di ember besar dan ditunggu

sampai dingin. Kulihat bath-tub penuh dengan air. Alhamdulillah, teman-teman

sangat pengertian dan cerdas. Aku bisa langsung mandi tanpa menunggu air

dingin. Ketika air menyiram seluruh tubuh rasa segar itu susah diungkapkan

dengan bahasa verbal. Habis mandi tenaga rasanya pulih kembali.

Usai berganti pakaian kurebahkan diriku di atas kasur. Oh, alangkah

nikmatnya. Ini saatnya istirahat. Kunyalakan tape kecil di samping tempat tidur.

Enaknya adalah memutar murattal48 Syaikh Abu Bakar Asy-Syathiri. Suaranya

yang sangat lembut dan indah penuh penghayatan dalam membaca Al-Qur’an

sering membawa terbang imajinasiku ke tempat-tempat sejuk. Ke sebuah danau

bening di tengah hutan yang penuh buah-buahan. Kadang ke suasana senja yang

indah di tepi pantai Ageeba, pantai laut Mediterania yang menakjubkan di Mersa

Mathruh. Bahkan bisa membawaku ke dunia lain, dunia indah di dalam laut

dengan ikan-ikan hias dan bebatuan yang seperti permata-permata di surga. Dalam

keadaan lelah selalu saja suara Syaikh Abu Bakar Asy-Syathiri menjadi musik

pengantar tidur yang paling nikmat. Meski terkadang aku harus terlebih dahulu

meneteskan air mata, kala mendengar Syaikh Syathiri sesengukan menangis

dalam bacaannya. Kunyalakan murattal Syaikh Syatiri. Suaranya yang indah

langsung mengelus-elus syaraf-syarafku. Mataku mulai liyer-liyer hendak

48 Kaset yang merekam Al-Qur’an dibaca secara tartil.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

39

terpejam. Tiba-tiba handphone-ku kembali memekik. Aku teringat sesuatu.

Titipan Maria. Kubaca pesan Maria.

Ada tiga pesan:

“Buka jendela sekarang. Aku akan turunkan keranjang.”

“Kau sedang apa? Aku sudah turunkan keranjang. Lama sekali.”

“Kenapa tidak ada respons?”

Aduh, kasihan Maria. Dia tadi sudah lama membuka jendelanya dan

menurunkan keranjang.

Langsung kujawab,

“Afwan. Tadi saya langsung mandi. Jadi tiga pesanmu terakhir baru

kubuka setelah mandi. Afwan. Sekarang bisa kau turunkan keranjang.”

Kutunggu respons darinya. Tak lama pesannya masuk,

“O, begitu. Tak apa-apa. Ini kuturunkan keranjangnya.”

Aku bangkit dari tempat tidur. Mengambil dua disket dalam tas. Lalu

menuju jendela. Kubuka jendela. Hawa panas langsung masuk. Sebuah keranjang

kecil dijulurkan dengan tambang kecil putih dari atas. Ada uang sepuluh pound di

dalamnya. Kuletakkan dua disket itu dalam keranjang tanpa menyentuh uang

sepuluh pound itu sama sekali.

Kamar Maria memang tepat di atas kamarku, dan jendela kamarnya tepat

di atas jendela kamarku. Orang Mesir yang berada di atas lantai dua biasanya

memiliki keranjang kecil yang seringkali digunakan untuk suatu keperluan tanpa

harus turun ke bawah. Jika ibu-ibu Mesir belanja buah-buahan atau sayur-sayuran

pada penjual buah atau penjual sayur keliling, biasanya mereka menggunakan

keranjang kecil itu, tanpa harus turun dari rumah mereka yang berada di atas.

Mereka cukup pesan berapa kilo, setelah sepakat harganya mereka menurunkan

keranjang kecil yang di dalamnya sudah ada uang untuk membayar barang yang

dipesannya. Tukang buah atau tukang sayur akan mengisi keranjang itu dengan

barang yang dipesan setelah mengambil uangnya. Jika uangnya lebih, mereka

akan mengembalikannya sekaligus bersama barang yang dipesan. Barulah si ibu

mengangkat keranjangnya seperti orang menimba. Transaksi yang praktis.

Pertama kali melihat aku heran. Yang aku herankan adalah begitu amanah-nya

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

40

penjual buah itu. Mereka tidak curang. Tidak berusaha nakal. Maria atau ibunya

juga biasa membeli sayur atau buah dengan cara seperti itu.

Maria mengangkat keranjangnya. Aku menutup jendela. Tak lama

kemudian handphone-ku kembali bertulalit. Maria lagi,

“Harganya berapa? Uangnya kok tidak diambil, kenapa?”

Kujawab,

“Harganya zero, zero, zero pound. Jadi tak perlu dibayar.”

Ia menjawab,

“Jangan begitu. Itu tidak wajar.”

Kujawab,

“Harganya seperti biasa. Uangnya kau simpan saja.

Kalau kau buat Ruzz bil laban49 titip ya. Bolehkan?”

Ia menjawab,

“Baiklah kalau begitu. Dengan senang hati. Syukran!”

Kujawab,

“Afwan.”

Klik. Handphone kunonaktifkan. Aku ingin tidur. Pada saat yang sama,

kudengar suara pintu terbuka. Lalu suara Hamdi mengucapkan salam. Kujawab

lirih. Alhamdulillah dia pulang. Dia nanti akan masak oseng-oseng wortel campur

kofta. Aku senang bahwa teman-teman satu rumah ini mengerti dengan kewajiban

masing-masing. Kewajiban memasak sesibuk apa pun adalah hal yang tidak boleh

ditinggalkan. Sepertinya remeh tapi sangat penting untuk sebuah tanggung jawab.

Masak tepat pada waktunya adalah bukti paling mudah sebuah rasa cinta sesama

saudara. Ya inilah persaudaraan. Hidup di negeri orang harus saling membantu

dan melengkapi. Tanpa orang lain mana mungkin kita bisa hidup dengan baik.

Sambil rebahan kunikmati suara Syaikh Syathiri membaca Al-Qur’an

mengalun indah. Maghrib masih lama. Dalam musim panas, siang lebih panjang

dari malam. Aku harus beristirahat. Nanti malam harus kembali memeras otak.

Menerjemah untuk biaya menyambung hidup. Ya, hidup ini—kata Syauqi, sang

raja penyair Arab—adalah keyakinan dan perjuangan. Dan perjuangan seorang

49 Ruzz bil laban: Bubur dari beras yang dibuat dengan susu. Setelah dingin dimasukkan

dalam kulkas.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

41

mukmin sejati—kata Imam Ahmad bin Hanbal—tidak akan berhenti kecuali

ketika kedua kakinya telah menginjak pintu surga.

* * *

Seperti biasa, usai shalat maghrib berjamaah di masjid kami berkumpul di

ruang tengah untuk makan bersama. Kali ini kami hanya berempat. Masih kurang

satu, yaitu Si Mishbah. Ia belum pulang. Ia masih di Wisma Nusantara yang

menjadi sentral kegiatan mahasiswa Indonesia. Gedung yang diwakafkan oleh

Yayasan Abdi Bangsa itu terletak di Rab’ah El-Adawea, Nasr City.

Hamdi baru pulang dari Masjid Indonesia. Ia banyak bercerita tentang

anak-anak para pejabat KBRI yang lucu-lucu dan manja-manja. Dibandingkan

yang ada di negara lain, KBRI di Cairo bisa dibilang termasuk yang beruntung.

Komunitas yang mereka urusi adalah mahasiswa Al Azhar. Kegiatan keislaman

dan pengajian antaribu-ibu KBRI juga berjalan lancar. Tiap Ramadhan ada

tarawih bersama. Juga ada pesantren kilat untuk putera-puteri mereka. Semuanya

dipandu oleh mahasiswa dan mahasiswi Al Azhar. Masalah yang dihadapi KBRI

Cairo tidak serumit yang dihadapi oleh KBRI di Saudi Arabia misalnya, yang

setiap hari berurusan dengan TKI atau TKW dengan setumpuk masalahnya yang

sangat memuakkan. Misalnya, tidak dibayar majikan, disiksa majikan, diperkosa

majikan, diperlakukan seperti budak oleh majikan, dihamili oleh sesama tenaga

kerja dari Indonesia, ditangkap polisi karena tidak punya izin tinggal resmi, dan

lain sebagainya, dan lain sebagainya.

Masjid Indonesia yang dibangun oleh para pejabat KBRI bahkan telah

memiliki perpustakaan yang cukup mengasyikkan bagi putera-puteri mereka.

Manajemen masjidnya lumayan baik. Teks khutbah Jum’atnya dibukukan tiap

tahun. Masjid Indonesia bahkan biasa menjadi tempat rekreasi para mahasiswa

yang ingin melepas penat pikiran. Mereka yang mayoritasnya tinggal di Nasr

City, jika merasa bosan bisa main ke Dokki. Silaturrahmi ke rumah pejabat KBRI

yang dikenal. Atau ke Masjid Indonesia yang terletak di Mousadda Street. Pergi

ke Dokki pada hari Jum’at sangat tepat. Selain shalat Jum’at bersama dan

bersilaturrahim dengan sesama orang Indonesia, usai shalat Jum’at biasanya ada

makan bersama di belakang masjid. Makanan disediakan oleh para pejabat KBRI

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

42

muslim secara bergiliran. Jika keadaan ini terus bertahan niscaya sangat indah

untuk dikisahkan dan dikenang.

Usai makan, aku melakukan rutinitasku di depan komputer.

Mengalihbahasakan kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Kali ini

yang aku garap adalah kitab klasik karya Ibnu Qayyim, yaitu kitab Miftah Daris

Sa’adah. Dua jilid besar. Kitab berat. Menggarap kitab ini benar-benar menguras

pikiran dan tenaga. Aku harus ekstra serius dan hati-hati pada saat Ibnu Qayyim

membahas masalah ilmu perbintangan, horoskop, pengaruh planet-planet, ramalan

nasib, dan lain sebagainya. Bahasa ilmu falak dan astronomi adalah bahasa yang

tidak mudah. Aku terpaksa membuka kamus klasik berkali-kali. Apalagi bahasa

yang dipakai Ibnu Qayyim adalah bahasa Arab klasik. Itu saja tidak cukup, harus

juga didampingi dengan kamus dan buku astronomi modern. Dan tatkala yang

ditulis Ibnu Qayyim telah terang maksudnya, aku bagaikan menemukan mutiara

tidak ternilai harganya. Ibnu Qayyim ternyata juga seorang astronom yang luar

biasa.

Menerjemahkan sebuah kitab klasik terkadang terasa sangat menjemukan.

Namun ketika rasa jemu bisa teratasi kegiatan itu akan berubah menjadi sebuah

rekreasi yang sangat mengasyikkan. Andaikan Ibnu Rusyd masih hidup, aku ingin

bertanya, rasanya seperti apa ketika dia sedang menerjemahkan karya-karya

Aristoteles. Dan seperti apa rasanya ketika telah selesai semuanya?

Malam ini jadwalku sampai jam dua belas. Berhenti ketika shalat Isya.

Akhir bulan naskah harus sudah aku kirim ke Jakarta. Setelah itu ada dua buku

yang siap diterjemah. Buku kontemporer, bahasanya lebih mudah. Seorang teman

pernah mencibir diriku, bahwa menjadi penerjemah sama saja menjadi mesin

pengalih bahasa. Aku tak peduli dengan segala cibiran mereka. Aku merasa

nikmat dengan apa yang aku kerjakan. Aku bisa belajar menambah ilmu,

mentransfer ilmu pengetahuan dan berarti ikut serta mencerdaskan bangsa. Aku

bisa berkarya, sekecil apa pun bentuknya. Berdakwah, dengan kemampuan

seadanya. Dan yang terpenting aku bisa hidup mandiri dengan royalti yang aku

terima. Tidak seperti mereka yang bisanya mencibir saja. Menuruti kata orang

tidak akan pernah ada habisnya. Kamu tidak akan mungkin bisa memenuhi segala

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

43

kesesuaian dengan hati semua manusia! Kata-kata Imam Syafii mengingatkan

diriku.

* * *

Pukul 22.00 waktu Cairo. Handphone-ku berdering. Ada sms masuk. Dari

Musthafa, teman Mesir satu kelas di pasca. Ia memberikan kabar gembira,

“Mabruk. Kamu lulus. Kamu bisa nulis tesis. Tadi sore pengumumannya

keluar.”

Aku merasa seperti ada hawa dingin turun dari langit. Menetes deras ke

dalam ubun-ubun kepalaku lalu menyebar ke seluruh tubuh. Seketika itu aku

sujud syukur dengan berlinang air mata. Aku merasa seperti dibelai-belai tangan

Tuhan. Setelah puas sujud syukurku aku mengungkapkan rasa gembiraku pada

teman-teman satu rumah. Mereka semua menyambut dengan riang gembira.

Dengan tasbih, tahmid dan istighfar. Dengan mata yang berbinar-binar.

Kukatakan pada mereka,

“Malam ini juga kita syukuran. Kita beli firoh masywi50 dua. Lengkap

dengan ashir mangga. Kita makan nanti tengah malam, bersama-sama di sutuh

sana. Bagaimana. Eh ra’yukum51?”

“Kalau ini sih usul yang susah ditolak!” sahut Saiful senang. Siapa yang

tidak senang diajak makan ayam bakar gratis.

Kukeluarkan uang lima puluh pound.

“Biar aku sama Saiful saja yang beli. Mas Fahri sama Hamdi di rumah

saja. Kalian masih capek ‘kan karena perjalanan tadi siang. Okay?” Rudi

menawarkan diri.

“Okay. Oh ya jangan cuma ashir mangga, beli juga tamar hindi ya?

Jangan lupa!” sahut Hamdi. Ia memang paling suka sama tamar hindi. Waktu

musim dingin saja ia mencari tamar hindi, apa tidak aneh.

“Beres bos,” seru Saiful.

Keduanya membuka pintu dan keluar.

“Mas aku buat sambal sama menanak sedikit nasi ya?” kata Hamdi.

“Sip. Kita buat bareng,” sambutku sambil mengacungkan kedua jempolku.

Memang, tanpa membuat sambal ala Indonesia kurang mantap. Ayam bakar Mesir

50 Ayam bakar.

51 Apa pendapat kalian.

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

44

tidak pakai sambal. Padahal kami berempat adalah orang yang doyan sambal,

terutama Hamdi. Dia jebolan pesantren Lirboyo, harus pakai sambal.

Saat melangkah ke dapur aku teringat Mishbah. Tidak adil rasanya kami

berempat berpesta tampa mengikutsertakan dia. Namanya keluarga, ketika senang

harus dirasakan bersama. Aku tersenyum. Masalah yang mudah. Kutelpon

Wisma. Aku minta disambungkan pada Mishbah. Kuberitahukan padanya orang

satu rumah akan syukuran atas kelulusanku. Ia berteriak gembira,

“Mas apa aku pulang saja sekarang? Pakai taksi ‘kan cepat!”

“Kerjamu sudah selesai?” tanyaku.

“Belum sih sekarang aku lagi membuat estimasi dana sama Mas Khalid.”

“Kalau begitu kau selesaikan saja pekerjaanmu. Kalau kau pulang ke

Hadayek Helwan kau akan terlalu capek. Begini saja Akhi, kau ajak saja Mas

Khalid istirahat ke Babay atau ke mana terserah. Ajak makan firoh masywi. Pakai

uangmu atau uangnya Mas Khalid dulu. Nanti aku ganti. Jadi adil, bagaimana?”

“Kalau begitu siiip-lah Mas. Pokoknya alfu mabruk deh.” Suaranya

terdengar girang. Aku tersenyum. Ah, musim panas yang menyenangkan,

meskipun melelahkan.

Dalam segala musim, Tuhan selalu Penyayang.

Itu yang aku rasakan.

* * *

Tepat tengah malam kami pergi ke suthuh.52 Membawa tikar, nampan

besar, empat gelas plastik, ashir mangga, tamar hindi, dan dua bungkus firoh

masywi yang masih hangat dan sedap baunya.

Kami benar-benar berpesta. Dua ciduk nasi hangat digelar di atas nampan.

Sambal ditumpahkan. Lalu dua ayam bakar dikeluarkan dari bungkusnya. Tak

lupa acar dan lalapan timun. Satu ayam untuk dua orang.

“Sekali-kali kita jadi orang Mesir beneran, satu ayam untuk dua orang,”

komentar Rudi.

“Kalau ini bukan makan nasi lauk ayam. Ini makan ayam lauk nasi.

Nasinya dikit sekali. Mbok ditambah dikit,” sambung Saiful.

52 Lantai apartemen paling atas dan menghadap langit (atap apartemen).

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

45

“Tujuannya memang kita makan ayam bakar. Nasi pelengkap saja untuk

melestarikan budaya Indonesia. Bagi yang mau tambah nasi ambil saja sendiri.

Benar nggak Mas?” sahut Hamdi.

“Sekarang bukan saatnya diskusi. Kalau mau diskusi besok Sabtu di

Wisma Nusantara. Rudi presentatornya. Bismillah, ayo jangan banyak cingcong

langsung kita ganyang saja!” ucapku sambil mencomot daging ayam di

hadapanku. Serta merta mereka melakukan hal yang sama. Kami makan sambil

ngobrol, di belai udara malam yang tidak dingin dan tidak panas. Semilir sejuk.

Keindahan musim panas memang pada waktu malam. Kala langit cerah. Bulan

terang. Bintang-bintang gemerlapan. Dan debu tidak berhamburan. Menikmati

suasana alam di atas suthuh apartemen sangat menyenangkan. Nun jauh di sana

cahaya lampu-lampu rumah dan gedung-gedung dekat sungai Nil tampak

berkerlap-kerlip diterpa angin. Sayup-sayup kami mendengar bunyi irama musik

rakyat mengalun di kejauhan sana. Mungkin ada yang sedang pesta. Alunan itu

ditingkahi puja-puji syair sufi. Sangat khas senandung malam di delta Nil.

Suasana nyaman ini akan jadi kenangan tiada terlupakan. Dan kelak ketika

kami sudah kembali ke Tanah Air, kami pasti akan merindukan suasana indah

malam musim panas di Mesir seperti ini.

Usai makan kami tidak langsung turun. Kami tetap bercengkerama

ditemani semilir angin dari sungai Nil dan satu botol air segar tamar hindi. Kami

bercerita tentang malam-malam berkesan yang pernah kami lewati. Rudi

Marpaung yang berasal dari Medan menceritakan pengalamannya menginap

bersama teman-temannya ketika masih aliyah di Brastagi. Menyewa vila dan

mengadakan shalat tahajjud bersama dalam dinginnya malam. Suasana jadi

semakin asyik ketika Hamdi mengisahkan pengalamannya yang menegangkan

selama tersesat di lereng Gunung Lawu selama dua hari.

“Kami berempat belas. Dibagi dalam dua kelompok. Kami mencoba jalur

baru. Kelompok kami istirahat terlalu lama. Kami mengejar kelompok pertama.

Sayang kurang kompak. Kami bertiga tertinggal dan terlunta selama dua hari

dalam hutan Gunung Lawu. Hanya pertolongan dari Allah yang membuat kami

tetap hidup.”

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

46

Sedangkan Saiful yang waktu SMP pernah diajak ayahnya ke Turki

bercerita tentang indahnya malam di teluk Borporus. Ia bercerita detil teluk

Borporus. Lalu mengajak kami membayangkan bagaimana Sultan Muhammad

Al-Fatih merebut Konstantinopel dengan memindahkan puluhan kapal di malam

hari lewat daratan dan menjadikan kapal itu jembatan untuk menembus benteng

pertahanan Konstantinopel.

Di tengah asyiknya bercengkerama, tiba-tiba kami mendengar suara orang

ribut. Suara lelaki dan perempuan bersumpah serapah berbaur dengan suara jerit

dan tangis seorang perempuan. Suara itu datang dari bawah. Kami ke tepi suthuh

dan melihat ke bawah.

Benar, di gerbang apartemen kami melihat seorang gadis diseret oleh

seorang lelaki hitam dan ditendangi tanpa ampun oleh seorang perempuan. Gadis

yang diseret itu menjerit dan menangis. Sangat mengibakan. Gadis itu diseret

sampai ke jalan.

“Jika kau tidak mau mendengar kata-kata kami, jangan sekali-kali kau

injak rumah kami. Kami bukan keluargamu!” sengit perempuan yang

menendangnya.

Kami kenal gadis itu. Kasihan benar dia. Malang nian nasibnya. Namanya

Noura. Nama yang indah dan cantik. Namun nasibnya selama ini tak seindah

nama dan paras wajahnya. Noura masih belia. Ia baru saja naik ke tingkat akhir

Ma’had Al Azhar puteri. Sekarang sedang libur musim panas. Tahun depan jika

lulus dia baru akan kuliah. Sudah berulang kali kami melihat Noura dizhalimi

oleh keluarganya sendiri. Ia jadi bulan-bulanan kekasaran ayahnya dan dua

kakaknya. Entah kenapa ibunya tidak membelanya. Kami heran dengan apa yang

kami lihat. Dan malam ini kami melihat hal yang membuat hati miris. Noura

disiksa dan diseret tengah malam ke jalan oleh ayah dan kakak perempuannya.

Untung tidak musim dingin. Tidak bisa dibayangkan jika ini terjadi pada puncak

musim dingin.

Noura sesengukan di bawah tiang lampu merkuri. Ia duduk sambil

mendekap tiang lampu itu seolah mendekap ibunya. Apa yang kini dirasakan

ibunya di dalam rumah. Tidakkah ia melihat anaknya yang menangis tersedu

dengan nada menyayat hati. Tak ada tetangga yang keluar. Mungkin sedang lelap

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

47

tidur. Atau sebenarnya terjaga tapi telah merasa sudah sangat bosan dengan

kejadian yang kerap berulang itu. Ayah Noura yang bernama Bahadur itu memang

keterlaluan. Bicaranya kasar dan tidak bisa menghargai orang. Seluruh tetangga di

apartemen ini dan masyarakat sekitar jarang yang mau berurusan dengan Si Hitam

Bahadur. Kulitnya memang hitam meskipun tidak sehitam orang Sudan. Hanya

kami yang mungkin masih sesekali menyapa jika berjumpa. Itu pun kami

terkadang merasa jengkel juga, sebab ketika disapa ekspresi Bahadur tetap dingin

seperti algojo kulit hitam yang berwajah batu. Sejak kami tinggal di apartemen ini

belum pernah Si Muka Dingin Bahadur tersenyum pada kami. Kalau suara

tawanya yang terbahak-bahak memang sering kami dengar.

Aku paling tidak tahan mendengar perempuan menangis. Kuajak temanteman

turun kembali ke flat. Mereka bertanya apa yang harus dilakukan untuk

menolong Noura. Aku diam belum menemukan jawaban. Aku masuk kamar,

kubuka jendela, angin malam semilir masuk. Noura masih terisak-isak di bawah

tiang lampu. Aku dan teman-teman tidak mungkin turun ke bawah menolong

Noura. Meskipun dengan sepatah kata untuk menghibur hatinya. Atau untuk

memberitahukan padanya bahwa sebenarnya ada yang peduli padanya. Tidak

mungkin. Jika ada yang salah persepsi urusannya bisa penjara. Apalagi Si Hitam

Bahadur bisa melakukan apa saja tanpa pertimbangan akal sehatnya.

Aku teringat Maria. Ia gadis yang baik hatinya. Rasa ibaku pada Noura

menggerakkan tanganku untuk mencoba mengirim sms pada Maria.

“Maria. Apa kau bangun. Kau dengar suara tangis di bawah sana?”

Kutunggu. Lima menit. Tak ada jawaban. Kuulangi lagi. Kutunggu lagi.

Ada jawaban.

“Ya aku bangun. Aku mendengarnya. Aku lihat dari jendela Noura

memeluk tiang lampu.”

“Apa kau tidak kasihan padanya?”

“Sangat kasihan.”

“Apa kau tidak tergerak untuk menolongnya.”

“Tergerak. Tapi itu tidak mungkin.”

“Kenapa?”

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

48

“Si Hitam Bahadur bisa melakukan apa saja. Ayahku tidak mau berurusan

dengannya.”

“Tidakkah kau bisa turun dan menyeka air matanya. Kasihan Noura. Dia

perlu seseorang yang menguatkan hatinya.”

“Itu tidak mungkin.”

“Kau lebih memungkinkan daripada kami.”

“Sangat susah kulakukan!” Maria menolak.

“Kumohon turunlah dan usaplah air matanya. Aku paling tidak tahan jika

ada perempuan menangis. Aku tidak tahan. Kumohon. Andaikan aku halal

baginya tentu aku akan turun mengusap air matanya dan membawanya

ke tempat yang jauh dari linangan air mata selama-lamanya.”

“Untuk yang ini jangan paksa aku, Fahri! Aku tidak bisa!”

“Kumohon, demi rasa cintamu pada Al-Masih. Kumohon!”

“Baiklah, demi cintaku pada Al-Masih akan kucoba. Tapi kau harus tetap

mengawasi dari jendelamu. Jika ada apa-apa kau harus berbuat sesuatu.”

“Jangan kuatir. Tuhan menyertai orang yang berbuat kebajikan.”

Benar dugaanku. Sebenarnya banyak tetangga yang terbangun oleh

teriakan-teriakan Bahadur dan jeritan Noura. Tapi mereka tidak tahu harus berbuat

apa. Pernah seorang tetangga memanggil polisi, tapi Noura tidak mau ayahnya

diperkarakan, Noura malah mengaku dia yang salah dan ayahnya berhak marah.

Mau bagaimana? Noura sepertinya tidak mau dibela padahal apa yang dilakukan

ayahnya padanya telah melewati batas. Tuan Boutros, ayah Maria pernah menegur

Si Hitam Bahadur atas perlakuannya yang tidak baik pada anak bungsunya. Tapi

apa yang terjadi? Bahadur malah melontarkan sumpah serapah yang tidak enak

didengar telinga.

Dari jendela aku melihat Maria berjalan mendekati Noura. Ia memakai

jubah biru tua. Rambutnya yang hitam tergerai ditiup angin malam. Maria lalu

duduk di samping Noura. Ia kelihatannya berbicara pada Noura sambil mengeluselus

kepalanya. Noura masih memeluk tiang lampu. Maria terus berusaha.

Akhirnya kulihat Noura memeluk Maria dengan tersedu-sedu. Maria

memperlakukan Noura seolah adiknya sendiri. Sambil memeluk Noura Maria

menengok ke arahku. Aku menganggukkan kepala. Kulihat jam dinding, pukul

AYAT AYAT CINTA

Novel Pembangun Jiwa—Habiburrahman Saerozi

49

dua empat puluh lima menit. Teman-teman sudah terlelap. Mereka kekenyangan

makan. Maria masih memeluk Noura. Cukup lama mereka berpelukan. Maria

melepaskan pelukannya. Tangan kanannya memenjet handphone-nya dan

meletakkan di telingannya.

Handphoneku menjerit. Maria bertanya,

“Sekarang apa yang harus kulakukan?”

“Tidak bisakah kau ajak dia ke kamarmu?”

“Aku kuatir Bahadur tahu.”

“Aku yakin dia sudah terlelap. Dan biasanya akan bangun sekitar jam

sepuluh pagi. Dia pekerja malam. Tadi jam setengah dua baru pulang terus

membuat keributan.”

“Baiklah akan kucoba.”

“Tunggu! Sekalian kau bujuk Noura menceritakan apa yang sebenarnya

dialaminya selama ini, agar kita semua para tetangga yang peduli pada nasibnya

bisa menolongnya dengan bijaksana.”

“Akan kucoba.”

Sebenarnya Maria bisa bicara langsung tanpa melalui handphone. Tapi dia

harus bersuara sedikit keras, dan itu akan mengganggu tetangga yang tidur. Maria

memang tidak seperti Mona dan Suzana, dua kakak perempuan Noura yang genit

dan keras bicaranya. Seringkali Mona atau Suzana memanggil orang di rumah

mereka dari bawah dengan suara keras. Tidak siang tidak malam. Padahal rumah
mereka hanya di lantai dua tapi suaranya seperti memanggil orang di lantai tujuh.
Kulihat Maria berhasil membujuk Noura untuk ikut dengannya dan
berjalan memasuki gerbang apartemen. Hatiku sedikit lega. Masih ada waktu satu
jam setengah sampai subuh tiba. Kupasang beker. Aku ingin melelapkan mata
sebentar saja.

Download Novel Ayat-Ayat Cinta